Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, menyimpan banyak sekali pelajaran mendalam mengenai sejarah umat manusia, etika sosial, serta janji dan ancaman ilahi. Khususnya, rentetan ayat 9 hingga 15 memberikan panduan fundamental tentang konsekuensi amal perbuatan dan balasan yang adil dari Allah SWT. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap tindakan, baik atau buruk, akan menuai hasilnya di dunia maupun di akhirat.
Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.
Ayat 9 membuka segmen ini dengan menegaskan fungsi utama Al-Qur'an: menjadi kompas menuju jalan yang paling benar (*aqwam*). Keistimewaan ini dikhususkan bagi mereka yang tidak hanya mengakui kebenaran petunjuk tersebut, tetapi juga menerapkannya melalui amal saleh. Ini menekankan bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ganjaran yang dijanjikan bukanlah ganjaran kecil, melainkan "pahala yang besar," menggarisbawahi nilai investasi amal saleh dalam perspektif akhirat.
Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhir, Kami siapkan bagi mereka azab yang pedih.
Kontras langsung disajikan pada kelanjutan ayat. Jika amal saleh mendatangkan ganjaran besar, maka mengingkari hari pembalasan (Akhirat) akan berujung pada azab yang menyakitkan. Ayat 10-12 kemudian menjelaskan bagaimana manusia merespons nikmat Allah. Ketika manusia diberi kemudahan (rezeki, kemakmuran), mereka cenderung bersikap boros dan melampaui batas. Sebaliknya, ketika kesempitan datang, mereka menjadi putus asa dan kikir. Sikap ini menunjukkan ketidakdewasaan spiritual, kurangnya rasa syukur, dan kegagalan melihat bahwa baik senang maupun susah adalah ujian dari Sang Pencipta.
Allah menetapkan bahwa catatan amal setiap individu bersifat permanen dan tidak dapat diubah. Ayat 13 menjelaskan bahwa nasib setiap orang terikat pada catatan perbuatan mereka sendiri. Tidak ada seorang pun yang menanggung dosa orang lain. Ini adalah prinsip dasar keadilan Ilahi.
Dan sungguh, masing-masing akan dipenuhi balasannya sesuai dengan amal perbuatannya. Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Puncak dari bagian ini terdapat pada ayat 15, yang menegaskan konsep *hidayah* (petunjuk) dan pertanggungjawaban. Barangsiapa menerima petunjuk (mengikuti Al-Qur'an dan sunnah), maka itu adalah kebaikan bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, siapa yang memilih tersesat, maka kesesatan itu akan ditanggungnya sendiri.
Barangsiapa mendapat petunjuk, maka sesungguhnya dia mendapat petunjuk itu untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tersesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
Poin krusial terakhir adalah penegasan bahwa Allah tidak akan menghukum suatu kaum sebelum Dia mengutus seorang rasul untuk menyampaikan peringatan dan petunjuk. Ini menunjukkan betapa Maha Adilnya Allah; tidak ada penghukuman tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ayat 9-15 secara keseluruhan adalah seruan untuk introspeksi mendalam: apakah kita sedang berjalan di jalan yang diluruskan oleh Al-Qur'an, ataukah kita menikmati kesenangan sesaat tanpa memikirkan pertanggungjawaban yang menanti? Setiap langkah kita telah tercatat, menunggu pemenuhan janji dan ancaman-Nya.