Konteks Ayat yang Menggemparkan
Al Isra ayat 96 merupakan salah satu ayat kunci dalam Surah Al-Isra (atau Bani Israil) yang menegaskan status kenabian Muhammad SAW. Ayat ini berbunyi:
Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu (semua). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."
Meskipun ayat ini sering dibaca secara terpisah, ia sangat erat kaitannya dengan narasi peristiwa besar yang terjadi sebelum ayat ini, yaitu Isra Mi'raj. Konteks penekanan kesaksian Allah SWT ini muncul setelah Allah SWT memberikan mukjizat luar biasa kepada Nabi Muhammad SAW, sebuah perjalanan spiritual dan fisik dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), dilanjutkan dengan kenaikan beliau ke tingkatan langit (Mi'raj).
Tantangan dan Penegasan
Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan kisah Isra Mi'raj kepada kaum Quraisy Mekkah, mereka menolaknya mentah-mentah karena dianggap mustahil secara akal dan logika manusia saat itu. Penolakan ini memicu kebutuhan akan penegasan dan saksi atas kebenaran yang dibawa beliau. Di sinilah Al Isra ayat 96 turun sebagai jawaban ilahiah.
Ayat ini memerintahkan Nabi untuk menyatakan, "Katakanlah: Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu." Penegasan ini memiliki beberapa dimensi penting. Pertama, ia menunjukkan bahwa masalah kebenaran wahyu dan kenabian bukanlah masalah perselisihan manusiawi yang bisa diselesaikan dengan argumen semata, melainkan masalah akidah yang memerlukan saksi tertinggi.
Saksi Yang Maha Mengetahui dan Melihat
Pernyataan bahwa Allah adalah Maha Mengetahui (Khabiran) dan Maha Melihat (Bashira) adalah inti dari penegasan tersebut. Allah mengetahui setiap detail perjalanan Nabi, niat beliau, dan kebenaran wahyu yang disampaikan. Tidak ada satu pun rahasia yang tersembunyi dari-Nya. Bagi orang-orang yang ragu atau menolak, ayat ini menjadi peringatan bahwa mereka tidak sedang berdebat dengan manusia biasa, melainkan menentang kebenaran yang disaksikan oleh Pencipta alam semesta.
Penggunaan dua sifat Allah ini secara bersamaan menekankan kesempurnaan pengawasan ilahi. Pengetahuan (ilmu) Allah meliputi segala yang batin dan tersembunyi, sementara penglihatan-Nya mencakup segala yang tampak. Ketika Nabi menyatakan Allah sebagai saksi, ia sedang memindahkan otoritas pembuktian dari kesaksian manusia yang lemah dan bias kepada Kesaksian yang sempurna dan tak terbantahkan.
Implikasi Bagi Umat Islam
Bagi umat Islam yang beriman, Al Isra ayat 96 berfungsi sebagai penguat keyakinan. Mukjizat yang dialami Nabi, meskipun mungkin sulit dipahami oleh akal terbatas, ditegaskan oleh Allah sendiri. Ini mengajarkan bahwa iman seringkali harus melampaui batas-batas nalar konvensional. Ketika menghadapi keraguan atau tuduhan ketidakbenaran terhadap ajaran Islam, umat diperintahkan untuk kembali kepada sumber tertinggi: kesaksian Allah SWT.
Lebih lanjut, ayat ini mendorong setiap Muslim untuk menjalani hidup dengan kesadaran bahwa mereka selalu berada dalam pengawasan. Jika Allah adalah saksi atas kebenaran kenabian, maka tentu saja Allah juga Maha Melihat dan Maha Mengetahui setiap perbuatan, niat, dan ucapan seorang hamba di mana pun mereka berada. Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan rasa tanggung jawab moral dan spiritual yang tinggi dalam berinteraksi, baik dengan sesama manusia maupun dalam ibadah pribadi. Al Isra ayat 96 adalah pengingat abadi tentang pengawasan ilahi yang meliputi segalanya.