Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat akan hikmah dan pelajaran historis. Salah satu ayat yang sering menjadi pembahasan mendalam adalah ayat ke-99, yang berkaitan erat dengan kebesaran Allah dan keadilan-Nya terhadap ciptaan-Nya.
Ayat ini menjadi penutup dari serangkaian ayat yang membahas tentang kekuasaan Allah dan kelemahan manusia, khususnya dalam konteks orang-orang yang menolak kebenaran atau meragukan janji-Nya.
Ilustrasi perbedaan antara petunjuk dan kekufuran.
Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 99
Ayat ini secara spesifik membahas tentang pembalasan bagi mereka yang menolak kebenaran karena sifat kesombongan atau ketidakpercayaan mereka terhadap kebangkitan.
Catatan Penting: Teks yang sering dirujuk sebagai Al-Isra Ayat 99 yang membahas tentang janji dan balasan mutlak adalah Ayat 100 dalam Mushaf standar. Namun, berdasarkan permintaan spesifik untuk Ayat 99, kami fokus pada ayat sebelum penutup surat yang membahas tentang pertanggungjawaban.
Konteks Ayat 99 Al-Isra
Dalam mushaf standar Utsmani, Al-Isra ayat 99 berbunyi:
Ayat 99 ini menjelaskan kemahakuasaan Allah SWT dalam menetapkan utusan. Ketika kaum musyrik Mekkah menuntut agar Nabi Muhammad SAW didatangkan malaikat sebagai penegas kenabian, Allah menjawab melalui ayat ini. Allah menegaskan bahwa jika Dia menghendaki, Dia bisa saja mengirimkan banyak malaikat sebagai pemberi peringatan bersamaan dengan para rasul manusia, namun hikmah dan kebijakan-Nya menetapkan cara dakwah yang berbeda.
Implikasi Spiritual Ayat 99
Ayat ini memberikan beberapa pelajaran mendasar:
- Ketundukan pada Kehendak Allah: Ayat ini menunjukkan bahwa mekanisme kenabian dan risalah sepenuhnya berada di bawah kehendak dan kebijaksanaan Allah. Manusia tidak berhak menentukan bagaimana seharusnya wahyu disampaikan atau siapa yang seharusnya diutus.
- Kecukupan Muhammad SAW: Walaupun Allah mampu mendatangkan serombongan malaikat, kehadiran satu orang Nabi Muhammad SAW dengan wahyu-Nya sudah mencukupi sebagai penutup para rasul. Ini menegaskan status paripurna risalah Islam.
- Ketetapan atas Umat Terdahulu: Ayat ini mungkin juga merujuk pada metode pengiriman rasul pada umat terdahulu, di mana kadang kala Allah menguatkan rasul-Nya dengan kehadiran sosok malaikat atau dukungan supranatural lainnya, namun ini adalah pengecualian, bukan kebiasaan yang diminta oleh manusia.
Penegasan Kebenaran yang Kontras dengan Tuntutan Keras
Ketidakpercayaan kaum Quraisy seringkali berpusat pada bentuk fisik dakwah. Mereka menuntut bukti yang nyata secara indrawi, seperti melihat malaikat atau harta yang melimpah. Ayat-ayat sebelum dan sesudahnya (termasuk ayat 100 yang masyhur) berfungsi sebagai respons bahwa bukti sejati adalah Al-Qur'an itu sendiri, dan tuntutan berlebihan hanyalah bentuk kesombongan.
Jika Allah mengirimkan banyak malaikat, hal itu mungkin akan menakutkan manusia hingga tidak ada yang sanggup menerima ajaran. Ayat 99 menegaskan bahwa Allah memilih jalan yang paling efektif bagi perkembangan iman manusia, yaitu melalui perantara manusia yang dapat dicerna oleh akal dan hati mereka. Integritas risalah Nabi Muhammad SAW tidak memerlukan tambahan fisik berupa sekelompok malaikat yang turun bersamaan.
Kesimpulannya, Al-Isra Ayat 99 adalah penegasan atas otoritas ilahi dalam menetapkan cara penyampaian risalah-Nya. Kehadiran Nabi Muhammad SAW adalah penutup kenabian yang sudah lengkap, dan tuntutan akan bukti tambahan yang bersifat materialistik adalah refleksi dari ketidakpercayaan yang mendalam, bukan kebutuhan rasional.