Kisah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai Al-Isra' dan Mi'raj, merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam. Kata kunci "Subhanalladzi" yang seringkali mendahului deskripsi peristiwa ini, yaitu "Maha Suci Allah," menegaskan betapa luar biasanya peristiwa tersebut, melampaui nalar dan hukum alam yang kita kenal. Perjalanan ini, yang terbagi menjadi dua bagian utama—Isra' (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan Mi'raj (kenaikan dari Masjidil Aqsa menuju langit ketujuh dan Sidratul Muntaha)—adalah penegasan langsung atas kekuasaan mutlak Allah SWT.
Peristiwa Isra' terjadi dalam konteks kesedihan mendalam bagi Rasulullah SAW. Setelah kehilangan pelindung utamanya, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah RA, beliau mengalami kesulitan besar dalam berdakwah di Mekkah. Allah SWT kemudian menganugerahkan perjalanan agung ini sebagai penghiburan sekaligus penguatan iman. Dimulai dari Ka'bah, Nabi dijemput oleh Malaikat Jibril AS. Kecepatan perjalanan yang tak terbayangkan, dari satu masjid suci ke masjid suci lainnya dalam sekejap mata, adalah manifestasi dari kehendak Ilahi. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga sebuah tur spiritual yang mengubah pemahaman umat tentang alam semesta.
Ilustrasi simbolis perjalanan malam Al-Isra'.
Ketika membaca atau mendengar ayat yang mengisahkan peristiwa ini, yaitu Surah Al-Isra' ayat pertama, selalu diawali dengan pujian: "Subhanalladzi asra bi 'abdihi lailā..." (Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam...). Penggunaan kata "Subhanalladzi" bukan sekadar basa-basi, melainkan pengakuan bahwa tindakan yang dilakukan Allah adalah di luar jangkauan logika manusia biasa. Ia menegaskan bahwa alam semesta tunduk pada kehendak-Nya, dan bagi-Nya, waktu serta jarak tidak menjadi penghalang.
Perjalanan ini juga menjadi wahyu penting mengenai status Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa). Di sana, Nabi Muhammad SAW menunaikan salat bersama para nabi terdahulu. Ini adalah pengukuhan kenabian beliau sebagai penyempurna risalah Ibrahim, Musa, dan Isa AS. Momen ini menegaskan kesinambungan ajaran tauhid yang dibawa oleh para rasul.
Setelah Isra' berakhir di Masjidil Aqsa, dimulailah Mi'raj, kenaikan spiritual ke tingkatan langit yang lebih tinggi. Di sinilah keagungan mukjizat mencapai puncaknya. Nabi SAW melewati tujuh lapis langit, bertemu dengan para nabi terdahulu di setiap tingkatan, hingga mencapai Sidratul Muntaha—sebuah batas yang bahkan Malaikat Jibril pun tidak diizinkan melampauinya.
Perjalanan Mi'raj mengajarkan bahwa keterbatasan duniawi tidak berlaku di hadapan Allah. Nabi SAW melihat surga dan neraka, menyaksikan kondisi para penghuninya, yang kemudian menjadi bekal penting dalam dakwah beliau untuk mengingatkan manusia tentang konsekuensi perbuatan mereka. Setiap tahapan dalam perjalanan ini adalah penegasan atas kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah SAW.
Kisah Al-Isra' wal Mi'raj, yang dipuncaki dengan ungkapan "Subhanalladzi", menjadi fondasi kokoh bagi keyakinan umat Muslim. Ia bukan hanya tentang kecepatan perjalanan atau ketinggian tempat, melainkan tentang kedekatan sejati seorang hamba terbaik dengan Rabb-nya, serta penetapan ritual ibadah yang menjadi tiang agama. Hingga kini, mukjizat ini terus membangkitkan kekaguman dan kepasrahan total terhadap kebesaran Allah SWT.