Al-Qur'an terdiri dari 114 surah, dan setiap surah memiliki keunikan serta kedudukannya tersendiri. Salah satu surah yang sangat kaya makna dan menyimpan kisah monumental dalam sejarah Islam adalah Al Isra, yang merupakan surah ke-17 dalam susunan mushaf standar. Surah ini juga dikenal dengan nama Surah Bani Isra'il.
Surah Al-Isra turun di Mekkah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Penamaan "Al-Isra" sendiri merujuk pada peristiwa luar biasa yang diceritakan pada ayat pertama surah ini, yaitu perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina (Al-Quds). Peristiwa ini dikenal sebagai Isra.
Kisah Monumental di Surah ke-17
Ayat pertama Surah Al-Isra menjadi landasan utama keimanan umat Islam terhadap mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat tersebut berbunyi:
"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra: 1)
Peristiwa Isra ini diikuti dengan Mi'raj (kenaikan) ke langit, meskipun detail Mi'raj lebih banyak ditemukan dalam hadis. Namun, Surah Al-Isra tidak hanya fokus pada perjalanan fisik tersebut. Surah ke-17 ini menyelipkan berbagai pelajaran moral, hukum, dan akidah yang mendalam, menjadikannya sebagai petunjuk komprehensif bagi umat.
Pelajaran Moral dan Hukum dalam Al Isra
Sebagai surah yang berada di Juz ke-15, Al Isra berfungsi sebagai pengingat keras bagi kaum musyrikin saat itu, sekaligus pedoman bagi umat Islam. Beberapa tema utama yang dibahas dalam surah ke-17 ini meliputi:
- Larangan Syirik dan Keutamaan Tauhid: Penekanan kuat pada keesaan Allah dan bahaya menyekutukan-Nya.
- Etika Terhadap Orang Tua: Penekanan pada birrul walidain (berbakti kepada orang tua) dengan cara yang paling santun, seperti larangan membentak.
- Hak-Hak Sosial: Terdapat perintah untuk menunaikan hak orang miskin, larangan riba, dan keharusan menepati janji.
- Larangan Pembunuhan: Ayat yang sangat tegas melarang pembunuhan jiwa tanpa hak, karena hal itu merupakan dosa besar.
- Tanggung Jawab Individu: Konsep pertanggungjawaban amal perbuatan di akhirat, di mana setiap individu memikul dosanya sendiri.
Keajaiban dan Ketentuan Ilahiah
Selain kisah Isra, Surah Al-Isra juga membahas tentang tujuan penciptaan manusia, bagaimana Allah memberikan ilmu pengetahuan, serta menyebutkan beberapa hikmah yang terkait dengan hukum alam. Surah ini juga menjadi saksi penting atas kebenaran kenabian Muhammad SAW, dibuktikan dengan mukjizat perjalanan yang melampaui batas kemampuan manusia biasa saat itu.
Bagi seorang muslim, mempelajari Al Isra surah ke-17 ini bukan sekadar mengetahui urutan dalam Al-Qur'an, melainkan juga mendalami pondasi moralitas dan etika sosial yang diletakkan oleh Islam. Ayat-ayatnya berfungsi sebagai cermin untuk merefleksikan kualitas iman dan amal seorang hamba di hadapan Allah SWT. Memahami konteks turunnya dan isi kandungannya memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai perjuangan dakwah di periode Mekkah.
Mengingat kedalaman pesannya, Surah Al-Isra senantiasa menjadi bacaan penting yang mengingatkan kita akan kebesaran Allah, baik dalam kapasitas-Nya sebagai penguasa alam semesta maupun sebagai Pemberi hukum yang Maha Bijaksana.