Peringatan dan Keimanan: Telaah Al-Ma'idah Ayat 101 hingga 120

Al-Ma'idah Ilustrasi SVG kitab suci yang memancarkan cahaya sebagai representasi petunjuk Ilahi.

Surah Al-Ma'idah, yang berarti "Alas Makan," merupakan salah satu surah Madaniyah yang kaya akan pembahasan hukum, etika sosial, dan ajaran tauhid. Rentang ayat 101 hingga 120 menghadirkan serangkaian instruksi penting, peringatan keras terhadap sikap berlebihan dalam bertanya, serta penegasan kembali otoritas mutlak Allah SWT, khususnya dalam konteks kenabian dan hari penghakiman.

Peringatan Terhadap Pertanyaan Berlebihan (Ayat 101-105)

"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika dijelaskan kepadamu akan menyusahkan kamu..." (Intisari Ayat 101)

Ayat-ayat awal rentang ini dimulai dengan teguran lembut namun tegas kepada kaum Mukminin. Allah mengingatkan bahwa terlalu banyak bertanya tentang hal-hal yang belum diwajibkan, atau pertanyaan yang bersifat menyelidik dan cenderung mencari celah, justru dapat memberatkan beban syariat bagi mereka sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa beberapa pertanyaan dari Bani Israil di masa lalu telah mengakibatkan keringanan hukum berubah menjadi kesulitan. Pesan utamanya adalah: cukupi dengan apa yang telah ditetapkan dan jalankanlah perintah tanpa mencari rumitnya hal yang belum diperintahkan.

Selanjutnya, ayat-ayat ini menegaskan prinsip dasar dalam agama: ketaatan total kepada Rasulullah ﷺ dan berserah diri kepada Allah. Jika kaum Mukminin telah dibebaskan dari kesulitan yang memberatkan, maka menjadi kewajiban mereka untuk melaksanakan ajaran yang ada dengan penuh kepatuhan dan rasa syukur. Ayat 103 menekankan bahwa Allah tidak pernah memerintahkan perbuatan yang sia-sia, sehingga setiap syariat yang diturunkan memiliki hikmah yang mendalam.

Tanggung Jawab Individu dan Kepercayaan Penuh (Ayat 106-111)

Setelah membahas etika bertanya, pembahasan beralih pada masalah kesaksian dan kepercayaan. Ayat 106 hingga 109 berbicara tentang tata cara persaksian dalam urusan wasiat ketika seseorang menghadapi kematian. Ini menunjukkan betapa pentingnya keadilan dan kejujuran, bahkan dalam momen yang paling emosional sekalipun.

Transisi narasi kemudian menyoroti peran penting para Nabi. Ayat 110 menjadi titik fokus ketika Allah mengingatkan Nabi Isa AS tentang nikmat yang telah diberikan kepadanya, termasuk mukjizat yang luar biasa. Ini berfungsi sebagai pengingat bagi umat Nabi Muhammad ﷺ tentang bukti-bukti kebenaran para rasul.

Puncak dari rangkaian pengingat ini adalah ketika Nabi Isa ditanya pada hari kiamat tentang apakah beliau memerintahkan umatnya untuk menyembahnya dan ibunya. Jawaban Nabi Isa yang tegas—bahwa beliau hanya menyampaikan risalah dan tidak pernah menyuruh penyembahan selain kepada Allah—merupakan penegasan tauhid yang absolut. Ini adalah bantahan keras terhadap segala bentuk penyelewengan akidah, menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas apa yang ia ajarkan dan apa yang ia amalkan.

Doa Nabi Isa dan Janji Allah (Ayat 112-120)

"Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (Al-Ma'idah) agar kami dapat memakannya..." (Intisari Ayat 114)

Ayat 112 hingga 115 mengisahkan dialog antara Allah dengan Nabi Isa AS mengenai permintaan kaum Hawariyyin untuk diturunkan hidangan dari langit (Al-Ma'idah). Kisah ini menekankan bahwa mukjizat yang besar sekalipun tidak akan menjamin keimanan abadi jika hati enggan tunduk sepenuhnya.

Allah SWT berfirman bahwa jika permintaan itu dipenuhi, maka siapa pun yang kufur setelahnya akan mendapat azab yang belum pernah diterima oleh seorang pun dari umat manusia. Ini adalah peringatan bahwa karunia dan nikmat besar memerlukan rasa syukur dan konsistensi dalam ketaatan. Jika karunia itu disalahgunakan, maka konsekuensinya akan sangat berat. Tentu saja, Nabi Isa AS membalas permintaan tersebut dengan doa yang penuh kerendahan hati dan penyerahan diri kepada ketetapan Allah.

Puncak penutup dari segmen ini adalah ayat 120, yang mengukuhkan kedaulatan Allah atas segala sesuatu di langit, di bumi, dan di antara keduanya. Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan Allah mencakup segalanya, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Ayat ini mengakhiri narasi dengan penegasan bahwa kekuasaan mutlak berada di tangan Allah, dan segala urusan dikembalikan kepada-Nya. Bagi orang beriman, ini adalah sumber ketenangan; bagi yang ingkar, ini adalah peringatan akan pengawasan yang tiada henti.

Secara keseluruhan, rentang Al-Ma'idah ayat 101-120 mengajarkan pentingnya mengikuti batasan syariat tanpa berlebihan, menjaga kejujuran dalam kesaksian, dan memahami bahwa setiap amal perbuatan—baik oleh nabi maupun umatnya—akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui.

🏠 Homepage