Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, memuat banyak sekali hukum, kisah, dan peringatan penting bagi umat Islam. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan karena kedalaman pesannya adalah ayat ke-102. Ayat ini berbicara tentang kesetiaan dan pendirian teguh umat Islam dalam memegang teguh ajaran agama, terutama dalam menghadapi godaan atau tekanan dari kelompok lain.
Ayat Al-Maidah 102 secara spesifik menyoroti kedudukan orang-orang yang beriman dan bagaimana mereka harus merespons pertanyaan atau ajakan yang berpotensi menjauhkan mereka dari Tauhid murni. Ayat ini merupakan penegasan bahwa keimanan sejati tidak boleh dikompromikan demi keuntungan duniawi atau tekanan sosial.
Ilustrasi: Kompas Keimanan dalam Cahaya Ilahi
Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 102
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
Terjemahan: "Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim (sehingga kamu menerima) kesesatan mereka, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagimu selain Allah, kemudian kamu tidak akan mendapat pertolongan."
Peringatan Keras Terhadap Keraguan dan Kemunafikan
Inti dari Al-Maidah ayat 102 adalah larangan keras dari Allah SWT terhadap umat Islam untuk "condong" atau "bersandar" (ركون/rukun) kepada orang-orang yang zalim. Kata "zalim" di sini memiliki cakupan yang sangat luas. Ia tidak hanya merujuk pada kezaliman dalam arti penindasan politik, tetapi juga kezaliman dalam beragama—yaitu orang-orang yang telah menyimpang dari kebenaran ajaran Allah.
Kecenderungan atau kerukunan dalam konteks ayat ini tidak hanya berarti bersekutu secara militer atau politik, namun juga mencakup kecenderungan hati, dukungan moral, atau penerimaan terhadap ideologi yang bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Apabila seseorang telah condong pada kezaliman, konsekuensinya sangat menakutkan: disentuh api neraka.
Ancaman Api Neraka dan Ketergantungan Penuh pada Allah
Ancaman "menyentuh api neraka" (تَمَسَّكُمُ النَّارُ) menunjukkan betapa seriusnya konsekuensi dari tindakan condong kepada kezaliman. Ini adalah sebuah mekanisme sebab-akibat spiritual. Tindakan condong kepada yang batil akan menarik murka Ilahi yang berujung pada hukuman akhirat.
Ayat ini kemudian menutup dengan pengingat fundamental: "Dan sekali-kali tidak ada pelindung bagimu selain Allah, kemudian kamu tidak akan mendapat pertolongan." Ini menegaskan konsep Tawakkal dan Wala' (loyalitas). Ketika dunia memberikan perlindungan palsu melalui afiliasi dengan kaum zalim, perlindungan tersebut akan sirna di saat yang paling dibutuhkan. Hanya Allah SWT yang merupakan Al-Wali (Pelindung) yang sejati.
Relevansi Kontekstual dalam Kehidupan Modern
Meskipun ayat ini turun dalam konteks sejarah tertentu, relevansinya tetap abadi. Dalam era informasi saat ini, godaan untuk "bersandar" bisa datang dalam bentuk media sosial yang menyebarkan kebatilan, lingkungan kerja yang menuntut kompromi moral, atau tekanan sosial untuk mengikuti tren yang jauh dari nilai-nilai Islam. Al-Maidah 102 mengingatkan bahwa mengambil jalan tengah dengan cara mendukung atau membiarkan kebatilan merajalela adalah bentuk kerukunan yang dilarang.
Seorang mukmin sejati harus menjaga integritasnya. Menjaga diri agar tidak condong kepada kezaliman adalah bentuk jihad an-nafs (perjuangan melawan hawa nafsu) yang paling mendasar. Ini adalah tentang menjaga kesucian akidah dan moralitas pribadi dari kontaminasi yang dapat menjauhkan dari rahmat-Nya.
Pentingnya Ikhlas dan Meminta Perlindungan
Ayat ini juga mendorong umat untuk selalu memohon perlindungan dan pertolongan hanya kepada Allah. Ketika kita berada di persimpangan jalan, di mana pilihan yang mudah tampak mengundang namun mengandung bahaya spiritual, pelajaran dari Al-Maidah 102 adalah kembali kepada tali Allah yang kokoh. Keimanan yang murni akan menghasilkan keberanian untuk menolak segala bentuk kesesatan, sekecil apapun bentuknya, karena yakin bahwa pertolongan sejati hanya datang dari Dzat yang Maha Kuasa.