Surah Al-Maidah, yang berarti Hidangan, merupakan salah satu surah Madaniyah terakhir dalam Al-Qur'an. Di dalamnya terkandung banyak hukum dan peraturan penting bagi umat Islam. Di antara ayat-ayat yang paling sering menjadi bahan diskusi dan kajian mendalam adalah ayat ke-51 dan 52. Kedua ayat ini memiliki relevansi kuat terkait dengan isu kepemimpinan, kesetiaan, dan prinsip persatuan umat.
Ayat 51 secara tegas memberikan panduan kepada orang-orang beriman mengenai siapa yang seharusnya dijadikan pemimpin atau pelindung (awliya’). Ayat ini seringkali dihadapkan pada konteks pertempuran atau saat umat Islam menghadapi tekanan eksternal dari kelompok-kelompok tertentu yang jelas-jelas memusuhi Islam.
Ilustrasi Prinsip Persatuan dan Pilihan Jelas.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi awliya’ (pelindung/pemimpin); sebahagian mereka adalah awliya’ bagi sebahagian yang lain. Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi awliya’, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maidah: 51)
Ayat ini seringkali ditafsirkan dalam konteks peperangan dan keamanan negara Islam pada masa Nabi Muhammad SAW. Kata awliya’ dalam konteks ini sangatlah krusial. Beberapa ulama menekankan bahwa larangan ini merujuk pada pemberian kepercayaan penuh dalam urusan militer, strategi pertahanan, atau menjadikan mereka sebagai sekutu utama yang memiliki pengaruh besar dalam kebijakan strategis negara.
Poin utama dari ayat 51 adalah penekanan pada loyalitas total (wala'). Ketika loyalitas inti terbagi antara mengikuti prinsip-prinsip Islam dan mengikuti kelompok yang secara historis atau aktual memusuhi Islam, maka seorang mukmin harus memilih pihak yang sejalan dengan keimanannya. Hal ini bukan semata-mata diskriminasi, melainkan sebuah peringatan tentang bahaya kerentanan strategis dan ideologis.
Jika ayat 51 memberikan larangan tegas terkait pengambilan awliya’, ayat selanjutnya (Ayat 52) memberikan konteks tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap terhadap kelompok non-Muslim yang tidak memerangi mereka. Ayat ini sering digunakan untuk menjelaskan batasan antara loyalitas strategis dan koeksistensi sosial yang damai.
"Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit (munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat musibah." Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada mereka) atau suatu keputusan dari sisi-Nya, lalu karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang telah mereka rahasiakan dalam diri mereka." (QS. Al-Maidah: 52)
Ayat 52 menyoroti adanya sekelompok orang yang disebut "hatinya berpenyakit"—yaitu kaum munafik—yang secara aktif mencari perlindungan dan kesetiaan kepada kelompok yang dilarang dalam ayat 51. Motivasi mereka adalah ketakutan akan siklus pergantian kekuasaan atau kekalahan ("takut mendapat musibah").
Perbandingan antara Al-Maidah 51 dan 52 membantu umat memahami perbedaan antara:
Secara keseluruhan, Al-Maidah 51 dan 52 adalah pengingat abadi bagi umat Islam untuk memprioritaskan prinsip keimanan dalam memilih aliansi strategis, sambil tetap menjaga keseimbangan dan kehati-hatian terhadap mereka yang di dalam hatinya terdapat keraguan dan kemunafikan.