Menggali Makna: Arti Surah Al-Isra Ayat 1-4

Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat pembukaannya, khususnya ayat 1 hingga 4, mengandung pesan fundamental mengenai keagungan Allah SWT, perjalanan agung Nabi Muhammad SAW (Isra' Mi'raj), dan pesan penting mengenai Bani Israil (Israel).

Memahami arti Surah Al Isra ayat 1-4 adalah langkah awal untuk mengapresiasi kedalaman ajaran Islam dan sejarah kenabian.

Isra' Mi'raj Simbol perjalanan suci

Ilustrasi simbolis perjalanan agung Isra' Mi'raj.

Teks dan Terjemahan Surah Al-Isra Ayat 1-4

Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

Ayat 2

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا
"Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): 'Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku.'"

Ayat 3

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
"(yaitu) keturunan orang-orang yang Kami selamatkan bersama menumpang kapal Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba (Allah) yang sangat bersyukur."

Ayat 4

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
"Dan telah Kami wahyukan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: 'Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini sebanyak dua kali dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar.'"

Penjelasan Mendalam Arti Surah Al Isra Ayat 1-4

Keagungan Perjalanan Malam (Ayat 1)

Ayat pertama adalah penegasan kebesaran Allah SWT. Frasa "Subhanallah" (Mahasuci Allah) mengawali ayat ini, menegaskan bahwa peristiwa luar biasa yang terjadi—Isra' (perjalanan malam hari dari Makkah ke Baitul Maqdis/Yerusalem) dan Mi'raj (kenaikan ke langit)—hanyalah mungkin terjadi karena kekuasaan mutlak-Nya. Perjalanan ini dialami oleh Nabi Muhammad SAW sebagai hamba-Nya. Tujuannya jelas: untuk menunjukkan sebagian dari ayat-ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah, membuktikan kenabian Muhammad, dan memberikan penghormatan agung kepada beliau setelah menghadapi tekanan di Makkah. Pemberkahan di sekitar Masjidil Aqsa menunjukkan pentingnya tempat tersebut dalam sejarah kenabian.

Peringatan kepada Bani Israil (Ayat 2-4)

Setelah mengagungkan peristiwa Nabi Muhammad SAW, Allah beralih mengingatkan Bani Israil melalui pewarisan Kitab Taurat kepada Nabi Musa AS. Ayat kedua menekankan bahwa Taurat adalah petunjuk, namun disertai peringatan keras agar mereka tidak menjadikan selain Allah sebagai pelindung (Wali). Ayat ketiga menghubungkan garis keturunan Bani Israil dengan orang-orang yang diselamatkan bersama Nabi Nuh AS. Ini adalah pengingat bahwa mereka adalah umat pilihan yang diselamatkan dari bencana besar, dan Nabi Nuh digambarkan sebagai 'hamba yang sangat bersyukur', sebuah teladan moral. Ayat keempat adalah nubuwah (ramalan) tegas mengenai perilaku buruk Bani Israil di kemudian hari, yang telah Allah tetapkan dalam Kitab. Mereka akan melakukan kerusakan di muka bumi sebanyak dua kali. Kerusakan pertama sering diartikan sebagai penghancuran Baitul Maqdis oleh Nebukadnezar (Babel), dan yang kedua dihubungkan dengan penaklukan kembali oleh Romawi. Kedua kerusakan ini disertai dengan sifat "melampaui batas dengan kesombongan yang besar" (Uluwwan Kabira), mengindikasikan arogansi, pembangkangan, dan penolakan terhadap kebenaran yang mereka terima.

Relevansi Kontemporer

Kisah ini bukan sekadar sejarah masa lalu. Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa setiap umat yang diberi wahyu harus menjunjung tinggi tauhid (mengesakan Allah) dan menghindari kesombongan. Kekuasaan dan rahmat Allah terbukti nyata dalam Isra' Mi'raj, sementara peringatan keras ditujukan kepada mereka yang menyalahgunakan anugerah kenabian dan Kitab Suci.
🏠 Homepage