Al-Qur'an adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam, dan setiap ayatnya mengandung hikmah serta pelajaran berharga. Salah satu ayat yang sering direnungkan mengenai tanggung jawab kolektif dan respons terhadap seruan ilahi adalah Surah Al-Maidah ayat ke-64. Ayat ini berbicara lugas mengenai kondisi orang-orang yang beriman sejati dibandingkan dengan mereka yang memiliki hati yang keras dan menolak kebenaran.
"Orang-orang Yahudi berkata: 'Tangan Allah terbelenggu', (maksudnya kikir). Justru tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka pun dikutuk disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. Padahal kedua tangan Allah terhampar luas; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan sungguh, Al-Qur’an itu akan menambah keingkaran kebanyakan dari mereka terhadap kebenaran. Kami timpakan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Tafsir Inti dari Ayat 64
Ayat ini merupakan teguran keras dari Allah SWT, ditujukan kepada sekelompok Bani Israil yang pada saat itu berada di Madinah. Inti dari teguran ini berpusat pada dua poin utama: **sifat kikir (tashabbuh bil bukhl)** dan **penolakan terhadap kebenaran wahyu**.
1. Tuduhan Terhadap Sifat Kikir Allah
Ungkapan "Tangan Allah terbelenggu" adalah metafora ekstrem yang digunakan untuk menggambarkan kekikiran atau batasan rezeki dari sisi Allah. Dalam konteks sejarah, ucapan ini muncul sebagai reaksi atas perintah untuk berinfak atau berjihad di jalan Allah. Mereka menuduh Allah menahan karunia-Nya. Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Ar-Razzaq (Pemberi Rezeki) yang Maha Pemurah. Justru, yang tangannya terbelenggu (kikir) adalah mereka sendiri, yang menahan harta mereka, sehingga mereka dikutuk (dilaknat) atas ucapan kufur tersebut. Ini adalah pengingat bahwa sifat kikir adalah penyakit spiritual yang menjauhkan diri dari rahmat Allah.
2. Penolakan Terhadap Al-Qur'an dan Konsekuensinya
Poin kedua adalah respons mereka terhadap Al-Qur'an. Meskipun Al-Qur'an datang sebagai penyempurna dan pengoreksi kitab-kitab sebelumnya, mereka justru semakin menjadi-jadi dalam kekufuran dan penolakan. Ayat ini menegaskan bahwa ketika kebenaran yang jelas datang, bagi mereka yang hatinya tertutup, kebenaran itu justru menjadi pemicu bertambahnya kesesatan.
Konsekuensi dari penolakan berkelanjutan ini sangat nyata: **Permusuhan dan Kebencian abadi**. Allah menetapkan permusuhan di antara mereka (sesama komunitas penolak kebenaran) yang akan terus berlanjut hingga Hari Kiamat. Ini adalah peringatan keras tentang bagaimana kerusakan akidah dapat memicu perpecahan sosial yang mendalam dan permanen.
Api Peperangan yang Dipadamkan
Bagian akhir ayat memberikan gambaran tentang upaya mereka untuk menyalakan "api peperangan" (konflik, fitnah, atau pemberontakan). Namun, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan memadamkan api tersebut. Ini menunjukkan bahwa rencana buruk mereka tidak akan pernah berhasil jika Allah menghendaki sebaliknya. Mereka mungkin berhasil menciptakan kerusakan kecil di bumi, tetapi upaya mereka untuk mengacaukan tatanan ilahi akan selalu digagalkan.
Pesan utama yang dapat dipetik dari Al-Maidah 64 adalah pentingnya sikap keterbukaan dan kedermawanan dalam beragama. Keimanan sejati terlihat dari bagaimana seseorang merespons seruan untuk berbagi dan menerima kebenaran. Sebaliknya, kekikiran dan kesombongan intelektual hanya akan berujung pada perpecahan, kutukan, dan kehancuran yang ditimbulkan oleh diri sendiri.
Ayat ini secara universal mengajarkan bahwa Allah Maha Kaya dan Maha Dermawan, dan siapapun yang menuduh-Nya kikir, sejatinya sedang menggambarkan keburukan sifatnya sendiri. Oleh karena itu, umat Islam diajak untuk senantiasa menjaga lisan dari ucapan yang menodai kesempurnaan sifat-sifat Allah dan berlindung dari sifat bakhil (kikir) yang menjadi ciri penolak kebenaran.