Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak ayat yang membahas tentang tatanan kehidupan bermasyarakat, hukum, dan hubungan antara Allah SWT dengan umat-Nya. Di antara ayat-ayat tersebut, ayat 65 dan 66 memiliki kedudukan penting karena menyoroti janji Allah kepada Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang beriman serta konsekuensi dari keimanan tersebut.
Teks dan Terjemahan Ayat
Ayat 65 berbunyi:
Dilanjutkan dengan ayat 66:
Makna Mendalam Ayat 65: Syarat Keimanan dan Ketakwaan
Ayat 65 adalah sebuah penegasan dari Allah SWT mengenai sifat rahmat-Nya yang luas, namun tetap disertai syarat yang jelas. Allah menyatakan bahwa jika Ahlul Kitab—yaitu mereka yang telah menerima kitab suci sebelumnya seperti Taurat dan Injil—benar-benar beriman dan bertakwa, maka balasan surgawi akan mereka peroleh. Konsep "beriman" di sini berarti iman yang utuh dan menyeluruh, termasuk iman kepada kedatangan Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur'an. Sementara itu, "bertakwa" merujuk pada pelaksanaan perintah agama dan menjauhi larangan-Nya.
Ayat ini menunjukkan bahwa pintu rahmat Allah terbuka lebar bagi siapa pun yang memenuhi kriteria keimanan dan ketakwaan, tanpa memandang latar belakang sejarah mereka. Penghapusan kesalahan (dosa) dan janji surga adalah ganjaran tertinggi bagi mereka yang berhasil menyatukan keyakinan (iman) dengan tindakan nyata (takwa).
Konteks Ayat 66: Implementasi Syariat
Ayat 66 memberikan gambaran lebih spesifik mengenai wujud takwa tersebut, yaitu dengan mengamalkan ajaran yang telah diturunkan kepada mereka. Ayat ini menyebutkan tiga landasan utama: Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan setelahnya (yaitu Al-Qur'an). Penekanan pada penerapan syariat ini menjadi kunci keberkahan.
Jika mereka sungguh-sungguh mengamalkan isi kitab-kitab tersebut, janji Allah berupa rezeki yang melimpah akan datang. Frasa "rezeki dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka" adalah metafora kuat untuk kemakmuran yang total dan menyeluruh—baik secara spiritual maupun material. Keberkahan ini datang dari langit (hujan, rahmat ilahi) dan bumi (hasil panen, sumber daya alam).
Namun, ayat ini juga menyajikan sebuah realitas pahit: "Di antara mereka ada umat yang pertengahan, dan banyak di antara mereka yang melakukan keburukan." Ini mengindikasikan bahwa meskipun ada kelompok yang berada di jalan tengah (umat wasathan) yang berusaha menjaga ajaran, mayoritas dari mereka telah menyimpang dari ajaran asli kitab suci mereka, sehingga mereka terhalang dari keberkahan yang dijanjikan.
Pelajaran Penting untuk Umat Islam
Dari ayat 65 dan 66 ini, umat Islam dapat menarik pelajaran bahwa keimanan saja tidak cukup tanpa disertai takwa dan implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Iman harus diwujudkan dalam bentuk ketaatan total terhadap syariat. Keberkahan, baik berupa ketenangan batin maupun kemudahan urusan duniawi, adalah buah alami dari ketaatan tersebut.
Ayat-ayat ini juga mengajarkan bahwa Allah tidak pernah membatasi kebaikan-Nya. Siapa pun yang jujur dalam mencari kebenaran dan bersedia mengikuti petunjuk ilahi, akan mendapatkan balasan yang setimpal. Ini menegaskan universalitas pesan kenabian: ketaatan menghasilkan kemakmuran, dan penyimpangan menghasilkan kehancuran.
Oleh karena itu, bagi umat Islam, Al-Maidah 65-66 menjadi pengingat abadi untuk senantiasa menjaga kualitas iman, meningkatkan ketakwaan, dan memastikan bahwa setiap aspek kehidupan berlandaskan pada ajaran Al-Qur'an, agar janji keberkahan dan keridhaan Allah senantiasa menyertai langkah kita.