Bagian akhir dari Surah Al-Ma'idah ini membawa kita pada penekanan penting mengenai konsekuensi pilihan spiritual, tanggung jawab individu, dan pengingat akan kekuasaan Allah SWT.
QS. Al-Ma'idah [5]: 81
"Lau kaanuu bi'allaahi wa-nnabiyyi wa-min an-nuuzila ilayhi laaittakhadhuu a'daa'allahi wa-ahlaaka duunannasi walakinna aktharahum laa ya'qilun."
Konteks Ayat 81 seringkali merujuk pada orang-orang yang menyatakan iman tetapi hatinya tidak sepenuhnya teguh, menunjukkan bahwa ukuran keimanan sejati bukanlah sekadar klaim lisan.
QS. Al-Ma'idah [5]: 86
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk Surga sehingga unta dapat masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat."
Ayat ini memberikan metafora kuat tentang kesombongan yang menghalangi rahmat ilahi, menyamakan peluangnya dengan hal yang mustahil secara kasat mata.
Ayat-ayat selanjutnya (sekitar 87-90) menekankan pentingnya tidak mengharamkan apa yang telah Allah halalkan sebagai rezeki yang baik, serta peringatan keras mengenai sumpah yang terburu-buru atau berdusta.
QS. Al-Ma'idah [5]: 90
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar (minuman memabukkan), maisir (judi), mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan keji, termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."
Ayat 90 adalah landasan hukum yang sangat tegas dalam Islam mengenai pengharaman total terhadap segala bentuk perjudian dan minuman keras, karena keduanya merusak akal dan memicu permusuhan.
QS. Al-Ma'idah [5]: 94
"Hai orang-orang yang beriman, Allah benar-benar akan menguji kamu dengan binatang buruan yang ditanganmu dan tombakmu, agar Allah mengetahui siapa yang takut kepada-Nya (walaupun tidak ada yang melihatnya) denganNya. Maka barangsiapa melanggar batas setelah itu, baginya azab yang pedih."
Ujian di sini bukan hanya soal fisik, tetapi ujian kejujuran dan ketaatan dalam kondisi tersembunyi (saat berburu). Ini menegaskan konsep ihsan—beribadah seolah melihat-Nya.
QS. Al-Ma'idah [5]: 100
"Katakanlah: 'Tidaklah sama yang buruk itu dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan'."
Ayat penutup segmen ini adalah kesimpulan filosofis yang mendalam. Keindahan duniawi yang buruk tidak boleh menipu hati kita. Akal sehat (ulul albab) harus digunakan untuk membedakan dan memilih jalan takwa.
Rentang ayat Al-Ma'idah 81 hingga 100 memberikan cetak biru tentang bagaimana seorang mukmin sejati harus bertindak. Ini mencakup disiplin diri dari hal-hal yang merusak (khamar, judi), memelihara kejujuran dalam segala situasi (ujian berburu), dan yang paling utama, menggunakan akal untuk selalu memilih kebaikan meskipun keburukan tampak menarik secara material.
Fokus pada 'ulul albab (orang-orang yang berakal) di ayat 100 menunjukkan bahwa keimanan sejati harus didukung oleh pemikiran yang jernih dan kemampuan untuk menimbang konsekuensi jangka panjang. Keseimbangan antara ketaatan ritual dan etika sosial-ekonomi menjadi penekanan utama di bagian ini.