Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali petunjuk ilahi mengenai hukum, etika, dan sejarah umat terdahulu. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan karena kekuatannya dalam membentuk mentalitas adalah ayat ke-81. Ayat ini berbicara tentang evaluasi diri dan konsekuensi logis dari pilihan yang diambil oleh sebagian kalangan dalam menghadapi kebenaran.
Ayat 81 dari surat Al-Maidah adalah sebuah peringatan keras sekaligus penegasan akan keberanian yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Ayat ini secara spesifik merujuk pada respons sekelompok orang Yahudi yang pada saat itu dihadapkan pada pilihan antara mengikuti petunjuk Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW atau tetap berpegang teguh pada interpretasi lama mereka yang telah menyimpang.
"Dan sekiranya mereka benar-benar beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir itu sebagai teman setia (auliya), tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik (durhaka)." (QS. Al-Maidah: 81)
Ayat ini mengandung premis kondisional yang sangat kuat. Allah SWT menegaskan bahwa iman yang sejati—iman kepada Allah, Rasul-Nya, dan kitab yang diturunkan—secara otomatis akan menghasilkan konsekuensi perilaku yang konsisten. Konsekuensi tersebut adalah penolakan untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung atau sekutu utama yang loyalitasnya melebihi loyalitas terhadap prinsip keimanan.
Pesan utama dari Al-Maidah ayat 81 adalah tentang kesatuan narasi iman dan tindakan. Iman bukan sekadar pengakuan lisan; ia harus membuahkan filter dalam memilih lingkungan pergaulan dan bentuk aliansi. Jika seseorang mengklaim beriman, tetapi perilakunya menunjukkan ketergantungan atau perlindungan berlebihan kepada pihak yang jelas-jelas menentang ajaran agamanya, maka klaim imannya patut dipertanyakan.
Kata "auliya" (teman setia/pelindung) di sini mengacu pada hubungan yang mendalam, tempat seseorang menaruh kepercayaan, harapan, dan loyalitas tertinggi. Islam mengajarkan bahwa loyalitas tertinggi adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Mengambil auliya dari kalangan yang memerangi atau menentang kebenaran adalah bentuk pengkhianatan terhadap inti keimanan itu sendiri.
Sebaliknya, ayat ini menyimpulkan bahwa mereka yang melakukan hal tersebut tergolong fasik. Kefasikan berarti keluar dari ketaatan, pembangkangan, dan penyimpangan dari jalan lurus. Ini menunjukkan betapa seriusnya konsekuensi dari ketidaksetiaan loyalitas dalam Islam.
Dalam konteks kehidupan modern, ayat ini relevan dalam berbagai aspek. Ini bukan sekadar masalah geopolitik masa lampau, melainkan prinsip universal tentang integritas keyakinan. Di era informasi dan globalisasi, godaan untuk mencari validasi, dukungan finansial, atau perlindungan sosial dari pihak-pihak yang memiliki pandangan sekuler ekstrem atau anti-nilai-nilai agama semakin besar.
Ayat ini menantang umat Islam untuk mengevaluasi: siapakah yang kita jadikan sebagai sumber rujukan utama kita ketika krisis melanda? Apakah institusi atau individu yang secara fundamental menolak prinsip-prinsip keesaan Allah, ataukah kita kembali kepada tali Allah yang kokoh?
Memahami Al-Maidah 81 berarti memahami bahwa iman yang murni menuntut keberanian untuk memilih jalan yang sempit namun lurus, meskipun jalan itu mungkin kurang populer atau kurang menjanjikan keuntungan duniawi sesaat. Integritas spiritual harus menjadi prioritas utama, karena integritas itulah yang akan menjadi penentu nasib akhir, bukan sekutu duniawi yang kita kumpulkan. Ayat ini adalah pengingat tegas bahwa loyalitas adalah ujian iman yang paling jujur.