Memahami Cahaya Petunjuk Ilahi

Keutamaan Lautan dan Anugerah Rezeki (Al-Maidah: 96)

[96] Dihalalkan bagimu buruan laut dan makanan yang berasal darinya, sebagai rezeki bagimu dan bagi musafir. Dan diharamkan bagimu (menangkap) buruan darat selama kamu sedang ihram. Bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

Ayat pembuka dalam rentang ini, Al-Maidah ayat 96, menegaskan rahmat Allah yang luar biasa dalam menyediakan sumber makanan bagi hamba-hamba-Nya. Lautan, dengan segala isinya, dijadikan halal untuk dikonsumsi. Ini adalah manifestasi dari kemurahan Tuhan yang mencakup kebutuhan dasar manusia, baik saat mereka berada dalam keadaan normal maupun sedang dalam perjalanan (musafir).

Namun, kemurahan ini disertai dengan batasan syariat yang bijaksana. Pada saat seorang muslim sedang melaksanakan ibadah haji atau umrah (dalam keadaan ihram), Allah mengharamkan perburuan darat. Pengaturan ini bukan bertujuan menyusahkan, melainkan melatih pengendalian diri, fokus spiritual, dan penghormatan terhadap kesucian waktu dan tempat ibadah. Puncak dari ayat ini adalah seruan untuk selalu bertakwa, karena hanya kepada Allah-lah semua akan kembali dan dimintai pertanggungjawaban.

Ilustrasi Lautan dan Cahaya di Atas Perahu

Visualisasi Rahmat dan Batasan dalam Perjalanan Spiritual dan Kehidupan

Peran Akal dalam Menetapkan Hukum (Al-Maidah: 97)

[97] Allah telah menjadikan Ka'bah, Baitullah yang suci itu, sebagai tiang (pusat) kehidupan dan pegangan bagi manusia, dan (demikian pula) bulan haram, hadyu (hewan kurban yang dibawa dari luar Mekkah), dan qala'id (kalung penanda hewan kurban). (Hal itu sengaja dijadikan demikian) agar kamu mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat 97 memindahkan fokus kita dari makanan menuju pusat spiritual umat Islam: Ka'bah di Mekkah. Ka'bah didefinisikan sebagai tiang kehidupan (Qayyimah) dan pedoman bagi manusia. Keagungan Baitullah terletak pada fungsinya sebagai titik temu, pusat orientasi ibadah, dan simbol persatuan global umat Muslim. Selain Ka'bah, Allah menetapkan aturan mengenai bulan-bulan haram (bulan-bulan yang dilarang berperang), hewan hadyu, dan qala'id. Semua ini adalah ketetapan yang bertujuan agar manusia menyadari keluasan ilmu Allah.

Pesan utama di sini adalah pengakuan akan Ilmu Allah yang absolut. Jika Allah menetapkan batasan, itu bukan karena Ia membutuhkan kepatuhan kita tanpa alasan, tetapi karena Dia—yang mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di langit dan di bumi—menciptakan aturan yang paling sempurna bagi kemaslahatan umat-Nya.

Konsekuensi Ketidakpatuhan dan Keadilan Ilahi (Al-Maidah: 98-99)

[98] Ketahuilah, bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[99] Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan wahyu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.

Setelah menjelaskan tentang rahmat dan hukum, ayat 98 memberikan peringatan keras. Keagungan Allah harus diimbangi dengan rasa takut (takut akan konsekuensi perbuatan), karena Allah keras hukuman-Nya terhadap mereka yang melanggar batas dengan sengaja dan tanpa penyesalan. Namun, sifat Pengampun dan Penyayang Allah selalu mendahului sifat Murka-Nya. Keseimbangan antara azab dan rahmat ini mendorong manusia untuk selalu bertaubat.

Ayat 99 menguatkan peran Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa pesan. Tugas Nabi hanya menyampaikan wahyu yang jelas. Setelah wahyu disampaikan, tanggung jawab beralih kepada penerima. Allah adalah saksi atas segala yang diucapkan dan disembunyikan oleh manusia. Ini menegaskan bahwa tidak ada niat tersembunyi yang dapat luput dari pengawasan-Nya.

Kepatuhan Total Adalah Jalan Menuju Keberhasilan (Al-Maidah: 100)

[100] Katakanlah: "Tidaklah sama (antara) yang buruk dan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan."

Ayat penutup dari rangkaian ini (Ayat 100) adalah kesimpulan filosofis dan praktis. Allah memerintahkan Nabi untuk menyatakan sebuah prinsip fundamental: kebaikan dan keburukan tidak pernah sama, meskipun keburukan itu terlihat menarik secara lahiriah (membuat hati terpikat).

Dunia seringkali menyajikan kebatilan dalam kemasan yang indah, menciptakan ilusi bahwa pelanggaran kecil itu tidak berbahaya. Namun, wahyu menegaskan perbedaan absolut antara keduanya. Kepada siapa seruan ini ditujukan? Kepada orang-orang yang berakal (Ulil Albab). Hanya akal yang tercerahkan oleh wahyu yang mampu membedakan antara daya tarik sesaat dari keburukan dan kebahagiaan abadi yang ditawarkan oleh kebaikan. Kepatuhan pada prinsip ini—ditopang oleh takwa—adalah satu-satunya jalan menuju keberuntungan sejati (Falah).

🏠 Homepage