"Dan sungguh, orang-orang yang terdahulu dari kamu telah didustakan, maka orang-orang yang mendustakan itu telah diazab karena kekafirannya." (QS. Al-Ma’idah: 102, berdasarkan pemaknaan konteks).
Catatan: Ayat ini seringkali dikutip dalam konteks peringatan kepada kaum yang mendustakan risalah, menekankan konsekuensi dari penolakan. Ayat 102 spesifik membahas tentang kaum-kaum terdahulu yang mendustakan rasul-rasul mereka.Surah Al-Ma’idah, yang berarti Hidangan, adalah salah satu surah Madaniyah yang kaya akan muatan hukum, etika sosial, dan sejarah kenabian. Di antara ayat-ayat yang sarat makna, terdapat ayat 102 yang berfungsi sebagai pengingat serius bagi umat Islam yang hidup setelah periode kerasulan. Ayat ini secara ringkas namun tegas menyoroti sebuah pola historis yang berulang: penolakan terhadap wahyu ilahi selalu diikuti oleh konsekuensi yang berat dari Allah SWT.
Ketika ayat ini diturunkan, kaum Muslimin di Madinah sering menghadapi penolakan dan cemoohan dari kaum musyrikin Mekkah atau Yahudi yang tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Ayat 102 menjadi semacam "garansi" atau kepastian dari Allah bahwa nasib umat-umat terdahulu yang mendustakan para nabi—seperti kaum 'Ad, Tsamud, atau kaum Nabi Luth—akan terulang pada mereka yang menolak risalah Nabi terakhir jika mereka memilih jalan yang sama.
Fokus utama ayat ini adalah pada kata "didustakan" (yakahibbun) dan konsekuensinya. Allah mengingatkan bahwa kenabian bukanlah klaim baru yang belum pernah ada uji coba sebelumnya. Sejarah telah mencatat, setiap rasul yang diutus pasti menghadapi dua kelompok: mereka yang beriman dan mereka yang mendustakan. Kelompok yang terakhir, karena keangkuhan dan penolakan sistematis mereka terhadap kebenaran yang jelas, menerima azab yang setimpal. Ini adalah hukum alam (sunnatullah) yang ditetapkan Allah dalam sejarah peradaban manusia.
Peringatan dalam Al-Maidah ayat 102 memiliki dimensi yang sangat relevan. Bagi Nabi Muhammad SAW, ini adalah peneguhan bahwa kesabaran beliau adalah bagian dari sunnah para nabi sebelumnya. Bagi kaum mukminin, ini adalah motivasi untuk tetap teguh di jalan kebenaran, sebab sejarah membuktikan bahwa tipu daya dan kedustaan kaum pendusta tidak akan bertahan lama.
Lebih jauh lagi, ayat ini mengajarkan tentang pentingnya mengambil pelajaran dari masa lalu. Kegagalan umat terdahulu bukanlah sekadar kisah naratif, melainkan pelajaran praktis mengenai bahaya kesombongan intelektual dan spiritual. Ketika seseorang menutup hati dari kebenaran yang disampaikan dengan bukti yang sahih (yang dibawa oleh Rasulullah), maka orang tersebut secara efektif menempatkan dirinya dalam barisan para pendusta yang telah dibinasakan sebelumnya.
Ayat ini menekankan bahwa azab yang diterima oleh kaum terdahulu bukanlah hukuman sewenang-wenang, melainkan akibat langsung dari "kekafiran" (atau kedustaan) mereka. Dalam terminologi Al-Qur'an, kekafiran seringkali merujuk pada penolakan aktif terhadap tauhid dan kerasulan setelah kebenaran itu jelas. Allah tidak menghukum tanpa memberikan peringatan melalui para utusan-Nya. Dengan demikian, ketika azab datang, ia menjadi pemenuhan janji ilahi dan keadilan yang sempurna.
Bagi umat Islam kontemporer, Al-Maidah ayat 102 menuntut introspeksi mendalam. Apakah kita sudah benar-benar menerima dan mengamalkan ajaran yang dibawa? Atau, justru kita mulai mencari dalih dan pembenaran untuk mengabaikan sebagian syariat, yang pada dasarnya merupakan bentuk "mendustakan" atau meremehkan risalah tersebut? Menjaga lisan dan hati dari sikap meremehkan wahyu adalah pelajaran utama yang tersirat.
Keselamatan umat Nabi Muhammad SAW bergantung pada ketaatan total terhadap ajaran yang dibawa. Ayat ini memastikan bahwa jalan keselamatan telah dibuktikan melalui kenabian-kenabian terdahulu: kenabian diakui, wahyu disampaikan, dan mereka yang menolak akan menerima takdirnya. Umat Islam harus melihat ini sebagai dorongan untuk terus belajar, berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, agar tidak termasuk dalam barisan mereka yang mendustakan risalah dan akhirnya menerima pembalasan yang berat seperti yang telah dialami oleh kaum-kaum sebelumnya. Memahami ayat ini adalah langkah awal untuk menjaga kemurnian akidah dan amal perbuatan kita.