Surat Al-Maidah, yang berarti "Alat Hidang", adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan ajaran etika, hukum, dan sejarah penting dalam Islam. Di antara ayat-ayatnya yang sarat makna, terdapat Al-Maidah ayat 11, sebuah pengingat tegas dari Allah SWT kepada orang-orang yang beriman mengenai pentingnya menjaga nikmat dan menghindari perbuatan tercela. Ayat ini berfungsi sebagai penguat spiritual sekaligus peringatan keras terhadap kelalaian dalam bersyukur.
Ilustrasi: Simbolisasi syukur dan janji yang terkandung dalam ayat.
Ayat ini secara spesifik mengingatkan orang-orang beriman akan janji yang telah mereka terima dan tanggung jawab yang menyertainya.
Para mufasir menyebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa penting dalam sejarah Islam, khususnya peristiwa pengepungan atau upaya pembunuhan Nabi Muhammad SAW oleh kaum musyrikin Quraisy, sering dikaitkan dengan peristiwa sebelum atau sekitar Perjanjian Hudaibiyah, atau periode awal dakwah di Madinah. Inti dari ayat ini adalah sebuah perintah langsung dari Allah SWT kepada kaum Mukminin: "Ingatlah nikmat Allah atas kalian."
Nikmat yang dimaksud adalah perlindungan Allah SWT dari niat jahat musuh. Meskipun musuh telah merencanakan serangan, Allah-lah yang menahan dan menggagalkan rencana tersebut. Ini adalah pelajaran fundamental: kekuatan sejati tidak terletak pada jumlah pasukan atau strategi duniawi, melainkan pada pertolongan Ilahi. Ketika pertolongan itu datang, ia seringkali tampak sebagai upaya tak terduga yang menggagalkan rencana besar musuh.
Al-Maidah ayat 11 menegaskan dua pilar utama keimanan setelah mengingat nikmat, yaitu Taqwa dan Tawakal.
Mengingat nikmat Allah bukan sekadar mengingat masa lalu, melainkan membangun kesadaran spiritual yang berkelanjutan. Syukur sejati mendorong seorang mukmin untuk tidak menyandarkan keberhasilan atau keselamatan semata-mata pada usahanya sendiri, melainkan mengakui bahwa segala keberhasilan adalah karunia. Dalam konteks ayat ini, syukur diwujudkan dengan menyadari bahwa mereka diselamatkan oleh kekuatan yang jauh melebihi kekuatan fisik mereka.
Setelah mengakui pertolongan Allah, ayat ini memerintahkan untuk bertakwa (wattaqū Allāh). Taqwa adalah fondasi dari segala amal baik. Ini berarti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, terutama dalam masa genting. Taqwa menjadi benteng yang memastikan bahwa nikmat yang telah diterima tidak disia-siakan dengan kemaksiatan atau kesombongan.
Ayat ini ditutup dengan penegasan tegas: "Dan hanya kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." Tawakal di sini adalah puncak dari kesadaran spiritual. Setelah berusaha semaksimal mungkin, seorang mukmin menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada kehendak Allah. Ayat ini menantang mukmin untuk tidak gentar menghadapi ancaman apa pun selama mereka berada di jalan yang benar dan berserah diri penuh kepada Pencipta. Mereka yang mengandalkan selain Allah, pada dasarnya telah mengabaikan pelajaran terbesar dari peristiwa penyelamatan yang dialami kaum Mukminin terdahulu.
Kajian Al-Maidah ayat 11 relevan hingga kini. Dalam menghadapi tantangan hidup modern—baik itu krisis ekonomi, tekanan sosial, atau konflik—ayat ini mengajarkan kita untuk selalu menilik kembali pertolongan Allah di masa lalu. Ketika kita merasa terpojok atau menghadapi ancaman yang tampaknya tidak dapat diatasi secara rasional, perintah untuk mengingat nikmat masa lalu berfungsi sebagai penyuntik semangat. Kepercayaan bahwa Allah mampu menahan tangan musuh yang mengancam adalah sumber ketenangan batin yang tak ternilai. Keimanan yang kokoh, yang diwujudkan melalui syukur, takwa, dan tawakal, adalah perisai tertinggi bagi seorang Muslim. Ayat ini adalah pengingat bahwa pertolongan Allah selalu menyertai hamba-Nya yang teguh memegang prinsip keimanan.