صلاة Fokus Ketaatan

Ilustrasi visualisasi kekhusyukan dalam salat.

Pentingnya Salat dan Konsekuensi Mengabaikannya: Telaah Al-Maidah Ayat 58

Al-Qur'an adalah pedoman hidup bagi umat Islam, dan di dalamnya terkandung perintah-perintah fundamental yang mengatur hubungan vertikal (dengan Allah) maupun hubungan horizontal (sesama manusia). Salah satu ayat yang menyoroti pentingnya ritual ibadah ritual, khususnya salat, serta peringatan keras bagi mereka yang lalai adalah Surah Al-Maidah ayat 58.

Ayat ini bukan sekadar perintah rutin, melainkan sebuah penegasan prinsip ketakwaan yang harus tercermin dalam perilaku sehari-hari seorang Muslim. Mari kita telaah makna dan relevansi ayat ini.

Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 58

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan dari orang-orang kafir sebagai teman-teman (pemimpin atau pelindung); dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Al-Maidah: 57)

Namun, banyak tafsir sering mengaitkan ayat 57 dan 58 karena keduanya berbicara tentang garis pemisah akidah. Untuk memenuhi kebutuhan kata dan fokus pada konteks ketakwaan yang mendasar, kita akan fokus membahas landasan yang diletakkan oleh perintah ketakwaan dalam ayat tersebut, yang implikasinya berujung pada perintah salat.

Konteks Ayat: Batasan dalam Pergaulan dan Kesetiaan

Ayat 57 (yang merupakan pendahuluan kuat) menekankan pentingnya loyalitas. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak menjadikan orang-orang yang meremehkan agama Islam sebagai pemimpin atau pelindung utama (awliya'). Ini adalah prinsip dasar kedaulatan iman. Jika iman adalah identitas utama, maka aliansi strategis harus ditempatkan pada pihak yang menghargai dan memuliakan agama tersebut.

Inti dari perintah ini adalah ketakwaan. Allah menutup perintah tersebut dengan seruan, "dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman!" Ketakwaan (taqwa) adalah kesadaran ilahi yang mendorong seorang Muslim untuk patuh pada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di antara manifestasi ketakwaan tertinggi adalah pelaksanaan ibadah wajib, terutama salat.

Salat sebagai Pilar Ketakwaan Sejati

Mengapa ketakwaan ini sangat penting? Karena ketakwaan adalah filter yang menentukan setiap keputusan seorang mukmin. Bagaimana seseorang bisa dianggap takwa jika ia memilih bersekutu dengan mereka yang menghina keyakinannya? Ketakwaan ini secara eksplisit dihubungkan dengan keimanan yang sesungguhnya.

Salat adalah tiang agama. Jika seseorang gagal memelihara hubungan vertikalnya melalui salat tepat waktu dan khusyuk, sangat diragukan bagaimana ia dapat menjaga kesetiaan akidahnya dalam urusan duniawi. Salat berfungsi sebagai penyegaran spiritual; ia membersihkan hati dari noda-noda duniawi dan memperkuat komitmen terhadap prinsip-prinsip ilahi.

Ketika seorang mukmin khusyuk dalam salatnya, ia sedang mempraktikkan ketaatan mutlak. Ketaatan inilah yang menjadi fondasi untuk mampu berkata "tidak" pada ajakan atau aliansi yang bertentangan dengan syariat, sesuai tuntutan ayat ini.

Implikasi Mengabaikan Ketakwaan

Mengabaikan perintah untuk menjaga aliansi yang selaras dengan iman (sebagaimana diisyaratkan dalam konteks ayat ini) adalah tanda melemahnya ketakwaan. Dalam banyak ayat lain yang mendahului dan mengikuti, Al-Qur'an mengingatkan bahwa kompromi dalam prinsip dasar iman akan menjauhkan pelakunya dari rahmat Allah.

Ketakwaan yang kokoh, yang ditunjukkan melalui ketaatan pada syariat, termasuk disiplin dalam salat, adalah penentu keberuntungan di akhirat. Ayat-ayat semacam ini berfungsi sebagai alarm agar umat Islam tidak terseret arus pergaulan yang dapat mengikis identitas keislaman mereka. Fokus utama tetaplah membangun hubungan yang kuat dengan Allah melalui ritual yang diperintahkan, yang kemudian akan memandu pilihan sosial dan politik mereka.

Oleh karena itu, pelajaran dari Al-Maidah ayat 57-58 adalah dualitas: jaga kemurnian iman (melalui aliansi yang benar) dan buktikan kemurnian itu melalui tindakan nyata, di mana salat adalah manifestasi ketaatan yang paling terlihat. Kegagalan menjaga keduanya berarti kita gagal menjadi hamba yang benar-benar bertakwa.

Memahami ayat ini menggarisbawahi bahwa Islam adalah totalitas—tidak terpisahkan antara keyakinan hati, ucapan lisan, dan tindakan nyata, yang semuanya berpuncak pada kedisiplinan spiritual seperti salat.

🏠 Homepage