Wawasan Mendalam: Al-Maidah Ayat 61 hingga 70

QS. 5 61-70 Hikmah Ilustrasi Kitab Suci Terbuka

Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali pelajaran hidup, hukum, dan kisah kenabian. Fokus kita kali ini adalah pada rentang ayat 61 hingga 70, di mana Allah SWT memberikan teguran keras sekaligus mengingatkan kaum Yahudi dan juga orang-orang beriman tentang pentingnya menjaga integritas spiritual dan moral.

Kondisi Umat Terdahulu dan Peringatan Keras (Ayat 61-65)

Ayat-ayat awal dalam rentang ini menyoroti perilaku sebagian Bani Israil yang mendustakan kebenaran dan menunjukkan kemunafikan. Allah SWT berfirman mengenai betapa buruknya apa yang mereka kerjakan. Ayat 61 secara spesifik menyebutkan tuduhan mereka kepada Nabi Muhammad SAW, sementara mereka sendiri masih enggan beriman secara total.

وَإِذَا جَاءُوكَ قَالُوا سَمِعْنَا وَقَدْ دَخَلُوا بِالْكُفْرِ وَهُمْ قَدْ خَرَجُوا بِهِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا يَكْتُمُونَ
(Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengatakan: "Kami telah mendengar," padahal mereka masuk dengan kekafiran dan mereka keluar dengan kekafiran pula. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan.) [Al-Maidah: 61]

Ayat 62 dan 63 melanjutkan kritik terhadap sikap mereka yang selalu menolak peringatan keras dan lebih memilih berbuat dosa, memakan yang haram, serta menumpuk kekayaan dengan cara yang batil. Teguran ini menjadi cermin universal bahwa kemaksiatan yang dilakukan secara terus-menerus akan menutup hati dari kebenaran yang datang, meskipun datang dari Nabi atau orang yang benar.

Pesan mendalam di sini adalah bahwa pengakuan lisan tanpa dibarengi tindakan hati yang tulus adalah sia-sia. Allah Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dalam dada mereka.

Seruan Kepada Orang Beriman dan Kritik Terhadap Ahli Kitab (Ayat 66-70)

Memasuki pertengahan bagian ini, fokus bergeser menjadi seruan kepada kaum Mukminin, menekankan pentingnya konsistensi dalam memegang teguh Taurat, Injil, dan Al-Qur'an yang diturunkan kepada mereka. Ayat 66 menegaskan, seandainya mereka benar-benar istiqomah menjalankan syariat, niscaya Allah akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi.

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ ۚ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ
(Seandainya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat rezeki dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada umat yang pertengahan, tetapi kebanyakan dari mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan.) [Al-Maidah: 66]

Ayat 67 adalah perintah tegas kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan risalah Allah tanpa rasa takut, karena Allah pasti akan menjaga beliau dari gangguan orang-orang kafir. Ini menegaskan mandat kenabian yang penuh tantangan.

Pesan Keimanan dan Ketakwaan

Ayat 68 hingga 70 adalah penutup yang kuat, menegaskan bahwa inti ajaran semua nabi adalah keesaan Allah dan ketaatan penuh. Ayat 69 memberikan jaminan keselamatan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.

Ayat 70 secara ringkas menutup pembahasan dengan mengingatkan bahwa tugas utama Rasul adalah menyampaikan risalah secara jelas. Mereka yang berpaling setelah peringatan keras ini akan menanggung konsekuensi perbuatannya. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat bahwa kemudahan hidup (rezeki) adalah buah dari kepatuhan total kepada wahyu ilahi, bukan semata karena warisan atau identitas keturunan.

Secara keseluruhan, Al-Maidah ayat 61-70 adalah pelajaran tentang konsekuensi dari kekerasan kepala terhadap kebenaran, pentingnya konsistensi dalam beragama, dan janji ganjaran bagi mereka yang teguh memegang petunjuk Allah SWT.

🏠 Homepage