Memahami Tanggung Jawab Kolektif: Al-Maidah Ayat 79

Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak ajaran penting mengenai hukum, etika, dan hubungan sosial antarmanusia. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam konteks tanggung jawab sosial dan pencegahan kemungkaran adalah ayat ke-79. Ayat ini memberikan peringatan keras sekaligus landasan filosofis mengapa umat Islam memiliki kewajiban untuk saling mengawasi dan mencegah perbuatan dosa.

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ
"Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan lisan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas."

Konteks dan Kedalaman Makna

Ayat 79 Al-Maidah ini menyoroti konsekuensi serius dari pembangkangan dan pelanggaran batas (i'tida'). Allah SWT menyebutkan bahwa laknat datang kepada sebagian dari Bani Israil, yang disampaikan melalui ucapan para Nabi besar mereka, yaitu Nabi Daud AS dan Nabi Isa AS. Hal ini menunjukkan bahwa teguran dan peringatan sering kali datang melalui wasilah (perantara) yang mulia.

Alasan utama pelaknatan ini dicantumkan secara eksplisit: "disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas." Durhaka (ma'siyah) adalah pelanggaran terhadap perintah Allah, sementara melampaui batas (i'tida') adalah tindakan melanggar norma yang telah ditetapkan, baik dalam hal keadilan, ibadah, maupun hubungan sesama.

Pelajaran Penting Mengenai Batasan

Meskipun ayat ini secara spesifik merujuk pada kaum terdahulu, pelajaran yang dapat dipetik oleh umat Islam sangat universal. Ini adalah pengingat bahwa setiap komunitas yang meninggalkan batasan-batasan ilahi akan menghadapi konsekuensi, baik di dunia maupun di akhirat. Ketika suatu masyarakat mulai mentoleransi dosa secara terang-terangan, atau ketika para pemimpin dan individu mulai melanggar keadilan, mereka sedang menempuh jalan yang sama menuju kehancuran moral.

Ilustrasi Visual dari Konsekuensi Pembangkangan

Batas yang Dilanggar Kaum Peringatan Nabi Konsekuensi Laknat (Akibat I'tida')

Pesan Penting: Pencegahan Kemungkaran

Meskipun ayat 79 berfokus pada kisah masa lalu, spirit utamanya sejalan dengan prinsip dasar Islam mengenai Amar Ma'ruf Nahi Munkar (menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran). Ketika kaum terdahulu dibiarkan terus menerus melanggar batas, teguran keras berupa laknat menjadi konsekuensinya.

Ini mengajarkan bahwa diam terhadap kemungkaran besar sama dengan partisipasi pasif. Tanggung jawab moral seorang Muslim bukan hanya menjaga kesucian diri sendiri, tetapi juga berusaha menjaga integritas moral lingkungan sosialnya. Jika teguran dan nasihat diabaikan, sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil yang disebutkan dalam ayat ini, maka umat harus menyadari bahwa konsekuensi pelanggaran batas tidak pernah terhindarkan.

Oleh karena itu, Al-Maidah ayat 79 menjadi pengingat bahwa ketaatan pada batasan Ilahi adalah kunci untuk menghindari murka dan menjaga keberkahan komunitas. Ketika kita melihat pelanggaran batas terjadi tanpa ada koreksi, kita harus mengambil pelajaran dari sejarah Bani Israil agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Umat terbaik adalah umat yang senantiasa saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

Perenungan atas ayat ini menegaskan bahwa kebebasan bertindak selalu dibatasi oleh parameter keadilan dan ketuhanan. Melampaui parameter tersebut—entah melalui kedurhakaan pribadi atau pembiaran dosa kolektif—adalah jalan yang telah terbukti menghasilkan laknat dan kehancuran.

🏠 Homepage