Di antara deretan surah dalam kitab suci Al-Qur'an, Surah Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan" atau "Nampan Berisi Makanan", menempati posisi yang sangat penting. Surah ini merupakan surah Madaniyah, turun setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, dan dikenal sebagai salah satu surah terakhir yang diturunkan secara lengkap. Kandungan maknanya sangat luas, mencakup aspek hukum, etika sosial, hingga penegasan kembali perjanjian (mitsaq).
Hukum dan Ketetapan Ilahi
Sebagai salah satu surah terakhir yang turun, Surah Al-Ma'idah banyak memuat penetapan hukum-hukum syariat yang final bagi umat Islam. Salah satu ayat yang terkenal adalah ayat 3, yang menegaskan kesempurnaan agama Islam hari itu: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu." Ayat ini memberikan penegasan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW telah paripurna.
Selain itu, surah ini membahas beberapa aturan penting, termasuk penghalalan makanan yang tayyib (baik) dan penyempurnaan aturan tentang hewan yang disembelih. Di dalamnya juga terdapat perintah untuk memenuhi segala akad (janji) yang telah dibuat, menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan integritas dalam muamalah (interaksi sosial). Aturan mengenai hudud (hukuman pidana) juga disinggung, memberikan kerangka keadilan dalam masyarakat muslim.
Kisah-Kisah Peringatan
Surah Al-Ma'idah juga kaya akan narasi historis yang berfungsi sebagai pelajaran. Salah satu kisah paling mendalam adalah kisah dua putra Nabi Adam AS, Habil dan Qabil, yang menjadi pelajaran awal tentang hasad (dengki) dan pembunuhan pertama di muka bumi. Kisah ini menjadi pengingat fundamental bahwa kejahatan berakar dari penolakan terhadap kebenaran.
Lebih lanjut, surah ini mengupas tuntas mengenai hubungan Islam dengan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ayat-ayatnya menjelaskan tentang penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian kelompok dari mereka terhadap perjanjian awal dan bagaimana Islam datang untuk mengoreksi serta menyempurnakan risalah kenabian sebelumnya. Perdebatan teologis dan peringatan keras terhadap praktik syirik dan menyimpang dari tauhid menjadi tema sentral di bagian akhir surah ini.
Pentingnya Keadilan dan Toleransi
Salah satu pesan universal yang sangat kuat dari Surah Al-Ma'idah adalah kewajiban untuk menegakkan keadilan tanpa memandang afiliasi agama seseorang. Ayat 8 dari surah ini menjadi landasan moral yang fundamental: "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..." Ayat ini menuntut umat Islam untuk bersikap objektif dan adil, bahkan terhadap mereka yang mungkin menjadi musuh dalam urusan duniawi. Keadilan, dalam pandangan surah ini, adalah pangkal ketakwaan.
Mempelajari Al-Ma'idah berarti memahami kompleksitas kehidupan sosial-politik pada masa awal Islam, di mana umat muslim berinteraksi dengan berbagai kelompok. Surah ini menuntut kedewasaan berpikir, di mana loyalitas utama adalah kepada prinsip kebenaran Ilahi, bukan semata-mata solidaritas kelompok. Dengan total 120 ayat, Al-Ma'idah memberikan panduan komprehensif bagi seorang Muslim untuk menjalani kehidupannya secara utuh—baik secara ritual, hukum, maupun etika sosial.