Surah Az-Zalzalah (Kegempaan), meskipun tergolong pendek, menyimpan peringatan kosmik yang luar biasa mengenai akhir zaman dan pertanggungjawaban segala amal perbuatan. Fokus utama dari empat ayat pertamanya adalah memberikan deskripsi gamblang tentang guncangan besar yang akan menandai dimulainya Hari Kiamat. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat yang tegas bahwa kedatangan hari perhitungan itu pasti dan tidak dapat dihindari.
Teks dan Terjemahan Al-Zalzalah Ayat 1-4
Guncangan Pertama: Permulaan Akhir
Ayat pertama, "Iza zulzilatil ardu zilzalaha," membuka babak dramatis ini. Kata "Zalzalah" sendiri berarti guncangan yang sangat dahsyat, melebihi gempa bumi yang biasa kita rasakan. Ini bukan sekadar pergeseran lempeng tektonik, melainkan sebuah guncangan yang mengguncang fondasi planet ini secara total. Para mufassir sering menjelaskan bahwa guncangan ini adalah guncangan penghancuran dunia yang pertama, menandai akhir dari kehidupan duniawi sebagaimana yang kita kenal. Bumi akan bergetar hebat hingga strukturnya terlepas dari keselarasan normalnya.
Kemudian, ayat kedua melanjutkan gambaran kengerian tersebut: "Wa akhrajatil ardu itsqalaha." Bumi akan memuntahkan semua yang selama ini disimpannya di dalam perutnya. "Itsqalaha" (isi perutnya) sering diinterpretasikan mencakup dua hal: pertama, semua mayat manusia yang mati dari zaman Adam hingga saat itu akan dikeluarkan dan dibangkitkan. Kedua, semua harta terpendam, logam mulia, dan segala kekayaan yang pernah diklaim manusia sebagai miliknya akan dimuntahkan ke permukaan. Ini adalah metafora visual yang kuat bahwa tidak ada lagi yang bisa disembunyikan atau diklaim kepemilikannya di hadapan Pencipta.
Keterkejutan Manusia dan Kesaksian Bumi
Kekacauan fisik ini memicu reaksi psikologis yang mendalam pada manusia yang masih hidup, sebagaimana digambarkan pada ayat ketiga: "Wa qaalal insaannu maalaha." Manusia, yang biasanya sombong dan sibuk dengan urusan duniawinya, tiba-tiba akan kebingungan, tercengang, dan bertanya dalam kepanikan, "Apa yang terjadi pada bumi ini?" Pertanyaan ini menunjukkan puncak dari ketidakpercayaan dan ketakutan ekstrem, sebab realitas yang mereka pahami selama ini telah hancur lebur. Mereka menyadari bahwa malapetaka ini melampaui batas kemampuan sains atau pemahaman alam biasa.
Ayat penutup bagian ini, ayat keempat, adalah yang paling signifikan dalam konteks pertanggungjawaban: "Yaumaidzin tuhadditsu akhbaraha." Pada hari itu, bumi akan menceritakan semua beritanya. Bumi, yang selama ini menjadi saksi bisu atas setiap perbuatan, setiap langkah kaki, setiap bisikan, setiap kebaikan, dan setiap kejahatan, tiba-tiba diberi kemampuan untuk berbicara. Tidak ada tempat berlindung, tidak ada saksi yang dapat dibungkam. Setiap detail yang terjadi di atas permukaannya akan dilaporkan secara jujur kepada Allah SWT. Guncangan fisik hanyalah pembuka; kesaksian bumi adalah awal dari pengadilan yang adil.
Implikasi Spiritual Ayat 1-4
Memahami Al-Zalzalah ayat 1 hingga 4 memberikan dampak mendalam pada kesadaran spiritual. Pertama, ayat-ayat ini menegaskan kepastian Hari Kiamat. Ia bukan dongeng, melainkan janji Ilahi yang akan direalisasikan melalui peristiwa dahsyat yang teramati. Kedua, ayat ini menekankan pentingnya kejujuran dalam setiap tindakan. Karena bumi akan bersaksi, maka kesadaran ini seharusnya mendorong seorang mukmin untuk selalu berbuat baik, bahkan saat sendirian, karena ada saksi abadi yang mencatat segalanya.
Kengerian guncangan pertama adalah pengingat bahwa kenikmatan duniawi dan bangunan yang kita banggakan akan lenyap dalam sekejap. Ketika bumi memuntahkan isinya, kekayaan dan kekuasaan duniawi menjadi tidak berarti sama sekali. Oleh karena itu, persiapan terbaik untuk hari ketika bumi "menyampaikan beritanya" adalah dengan menanamkan amal saleh yang akan menjadi pembela kita, bukan harta yang akan dimuntahkan oleh bumi. Ayat-ayat ini adalah seruan untuk introspeksi mendalam mengenai kualitas hidup kita saat ini.