Fokus Utama Kenabian: Sesungguhnya Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak

Ilustrasi Nilai Moral dan Cahaya Kebenaran HATI Keseimbangan Sempurna

Dalam risalah kenabian, terdapat sebuah misi agung yang ditekankan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Beliau pernah bersabda dengan tegas, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak." (HR. Ahmad). Ungkapan ini bukanlah sekadar pernyataan retoris, melainkan inti dari seluruh ajaran Islam yang dibawa, fondasi yang membedakan praktik keagamaan yang dangkal dengan spiritualitas yang mendalam.

Akhlak Sebagai Puncak Ibadah

Banyak orang seringkali mengasosiasikan Islam hanya sebatas ritual formal—salat, puasa, zakat, dan haji. Namun, Nabi Muhammad SAW mengarahkan fokus umatnya jauh melampaui ritual tersebut. Ritual adalah sarana, sementara tujuan akhirnya adalah pembentukan karakter mulia. Menyempurnakan akhlak berarti membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin seperti iri hati, dengki, sombong, dan keserakahan, lalu menggantinya dengan sifat-sifat terpuji seperti jujur, sabar, kasih sayang, dan rendah hati.

Ketika kita berbicara tentang kesempurnaan akhlak, kita merujuk pada peneladanan terhadap uswah hasanah (contoh teladan) terbaik, yaitu Nabi itu sendiri. Akhlak yang baik terwujud dalam interaksi sehari-hari: cara kita berbicara kepada orang tua, bagaimana kita memperlakukan tetangga, kejujuran kita dalam berdagang, dan bahkan kesabaran kita saat menghadapi kesulitan hidup. Ibadah ritual menjadi tidak bernilai jika tidak diikuti dengan perbaikan perilaku sosial. Salat yang khusyuk seharusnya menghasilkan individu yang lebih baik di tengah masyarakat, bukan sebaliknya.

Penyempurnaan Diri dalam Konteks Modern

Di era modern yang serba cepat dan penuh ketegangan ini, urgensi penyempurnaan akhlak semakin terasa. Teknologi memudahkan komunikasi, namun ironisnya, seringkali memicu lahirnya ujaran kebencian dan perpecahan. Di sinilah ajaran tentang pengendalian lisan dan empati menjadi krusial. Misi penyempurnaan akhlak menuntut kita untuk mengoreksi diri secara kontinyu. Ini adalah proses yang tidak pernah berhenti selama ruh masih dikandung badan.

Penyempurnaan akhlak juga berkaitan erat dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sesama makhluk hidup. Kelembutan terhadap hewan, kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan, serta penegakan keadilan tanpa memandang status sosial, semuanya adalah manifestasi nyata dari akhlak yang telah disempurnakan. Agama yang sejati tercermin bukan dari kemerduan bacaan Al-Qur'an, melainkan dari kematangan sikap saat menghadapi konflik atau saat mendapatkan keuntungan.

Implikasi Spiritual dan Sosial

Mengapa penyempurnaan akhlak disebut sebagai puncak? Karena akhlak yang baik adalah jembatan yang menghubungkan hubungan vertikal kita dengan Tuhan (hablum minallah) dan hubungan horizontal kita dengan sesama manusia (hablum minannas). Jika salah satunya timpang, maka bangunan spiritualitas kita akan rapuh. Seseorang yang rajin beribadah namun perilakunya merugikan orang lain tidak dapat disebut telah mencapai derajat penyempurnaan yang diinginkan syariat.

Pada akhirnya, hadis tersebut mengingatkan bahwa misi kenabian adalah revolusi internal. Ia menuntut kejujuran radikal terhadap diri sendiri untuk melihat cacat karakter yang perlu diperbaiki. Dengan fokus pada pengembangan moral dan etika, ajaran Islam menjadi rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta), karena membawa kedamaian bukan hanya di dalam hati pemeluknya, tetapi juga di lingkungan sosial tempat ia hidup. Keindahan Islam terletak pada kesempurnaan akhlak yang ditunjukkannya.

šŸ  Homepage