Surah Az-Zalzalah (Kegoncangan), surah ke-99 dalam Al-Qur'an, secara ringkas namun padat menggambarkan dahsyatnya Hari Kiamat. Di antara ayat-ayat yang paling sering direnungkan adalah ayat kelima dan keenam, yang memuat peringatan keras sekaligus janji keadilan ilahi yang mutlak. Pemahaman mendalam terhadap **Al Zalzalah 5 6** memberikan perspektif penting mengenai akuntabilitas setiap perbuatan manusia.
QS. Az-Zalzalah (99): 5 - 6
5. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.
6. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.
Ayat 5 dan 6 ini berfungsi sebagai puncak argumentasi surah tersebut setelah menggambarkan guncangan hebat bumi (ayat 1-4). Allah SWT menegaskan prinsip utama hari perhitungan: tidak ada amalan, sekecil apapun, yang luput dari pengawasan dan perhitungan. Frasa kunci di sini adalah "mitsqala dzarrah" (مِثْقَالَ ذَرَّةٍ), yang secara harfiah berarti "seberat zarrah" atau seberat atom terkecil yang terlihat.
Penggunaan kata "zarrah" menekankan universalitas keadilan. Dalam konteks ketika ayat ini diturunkan, zarrah mungkin merujuk pada debu halus yang tidak terlihat mata. Namun, dalam perspektif modern, ini dapat dikaitkan dengan partikel terkecil dalam materi, memperkuat makna bahwa baik itu niat, bisikan hati, gerakan fisik, maupun ucapan lisan—semuanya tercatat.
Pesan dalam **Al Zalzalah 5 6** bersifat biner dan seimbang. Ayat kelima memberikan harapan besar: kebaikan sekecil apa pun, yang dilakukan dengan ketulusan, pasti akan dibalas dengan kebaikan yang setara atau lebih. Hal ini mendorong umat Islam untuk tidak pernah meremehkan amal saleh sekecil apapun, seperti tersenyum kepada sesama, menyingkirkan duri dari jalan, atau mengucapkan kalimat tayyibah. Setiap usaha menuju kebaikan adalah investasi di akhirat.
Di sisi lain, ayat keenam berfungsi sebagai peringatan serius. Kejahatan, sekecil apapun—seperti ghibah (menggunjing), iri hati yang melahirkan niat buruk, atau menipu dalam timbangan—akan diperhitungkan. Keadilan Allah SWT tidak mengenal kompromi dalam pencatatan dosa. Ini menuntut seorang mukmin untuk senantiasa menjaga hati dan perilakunya (muhasabah) agar terhindar dari kesalahan yang tampak sepele namun berbobot besar di sisi Allah.
Pemahaman terhadap **Al Zalzalah 5 6** memiliki implikasi mendalam pada psikologi seorang Muslim. Kesadaran bahwa ada pencatat yang Maha Teliti (Malaikat Raqib dan Atid) yang mencatat setiap 'zarrah' amalan, menciptakan rasa takut (khauf) sekaligus harap (raja'). Khauf ini bukan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan motivasi untuk introspeksi diri dan perbaikan berkelanjutan.
Sebaliknya, harapan muncul karena kita tahu bahwa Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Jika seorang hamba telah melakukan banyak kesalahan, namun ia bertaubat dengan sungguh-sungguh atas kejahatan seberat zarrah yang ia lakukan, pertobatan tersebut, insya Allah, akan menutupi kesalahan itu. Ayat ini menegaskan bahwa neraca amal tidak statis; ia dapat berubah melalui rahmat dan ampunan Allah yang Maha Luas, asalkan ada penyesalan yang tulus atas dosa seberat zarrah tersebut.
Konsep keadilan yang disajikan dalam Surah Az-Zalzalah ayat 5 dan 6 ini sejalan dengan prinsip Tauhid—bahwa tidak ada sekutu bagi Allah dalam menciptakan, mengatur, dan menghisab. Ketika manusia saling menghisab di dunia, seringkali ada faktor subjektif, suap, atau kelalaian. Namun, hisab di hari kiamat adalah perhitungan yang sempurna (Al-Qisat al-Adl), di mana kebaikan dan keburukan diletakkan pada neraca yang adil, sehingga tidak ada yang dizalimi sedikit pun. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa konsep keadilan absolut hanya bisa datang dari Sang Pencipta. Dengan demikian, ayat ini adalah fondasi kuat bagi keyakinan akan Hari Pembalasan.