Ilustrasi: Sifat Negatif dalam Diri
Dalam ajaran Islam, akhlak (moralitas atau karakter) memegang peranan sentral dalam menentukan kualitas keimanan dan kehidupan seorang Muslim. Akhlak terbagi menjadi dua kategori utama: akhlak terpuji (mahmudah) dan akhlak tercela (mazmumah). Memahami pengertian akhlak tercela adalah langkah pertama yang krusial untuk menghindari dan membersihkan diri darinya.
Akhlak tercela secara harfiah merujuk pada perilaku, sifat, atau watak yang dianggap buruk, rendah, dan mendatangkan kerugian baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sosial. Sifat-sifat ini bertentangan langsung dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh agama dan norma-norma kemanusiaan yang baik. Jika akhlak terpuji adalah cerminan ketenangan jiwa dan kedekatan dengan Tuhan, maka akhlak tercela adalah indikasi adanya penyakit spiritual yang memerlukan perbaikan segera.
Akhlak tercela memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari perilaku terpuji. Sifat-sifat ini seringkali didorong oleh hawa nafsu, keegoisan, dan kurangnya kesadaran akan pengawasan Ilahi.
Untuk memperjelas pengertian akhlak tercela, penting untuk mengetahui beberapa contoh nyata yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Daftar ini mencakup perilaku yang tampak kecil namun dampaknya signifikan terhadap kerusakan karakter:
Konsekuensi dari memelihara akhlak tercela sangat luas, mencakup dimensi duniawi dan ukhrawi. Di dunia, sifat buruk menjadi penghalang rezeki yang berkah, menyebabkan hilangnya kepercayaan orang lain, dan memicu stres serta isolasi sosial. Dalam jangka panjang, akhlak tercela akan menjadi beban berat di akhirat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa amal perbuatan seorang hamba akan sangat dipengaruhi oleh karakternya. Jika seseorang rajin beribadah namun dikuasai oleh kesombongan atau kedengkian, maka semua amalnya terancam hangus. Sebaliknya, seseorang yang menyadari keburukan karakternya dan berjuang keras untuk memperbaikinya, akan mendapatkan pahala yang besar atas perjuangan mujahadah (perlawanan terhadap hawa nafsu) tersebut. Oleh karena itu, membersihkan hati dari akhlak tercela adalah jihad terbesar seorang Muslim.
Proses menghilangkan akhlak tercela memerlukan niat yang tulus, muhasabah (introspeksi diri) yang berkelanjutan, dan usaha keras untuk menggantinya dengan kebalikan sifat terpuji. Misalnya, mengganti riya’ dengan ikhlas, mengganti hasad dengan tasamuh (toleransi) dan mendoakan kebaikan bagi orang yang dicemburui, serta mengganti kesombongan dengan tawadhu’ (kerendahan hati). Proses ini menuntut kesabaran dan istiqomah (konsistensi) dalam beribadah dan berinteraksi sosial.