Ilustrasi: Representasi konseptual dari titik awal alam semesta.
Pertanyaan mengenai asal-usul keberadaan selalu menjadi salah satu teka-teki terbesar dalam sejarah pemikiran manusia. Ketika kita merenungkan luasnya galaksi, bintang-bintang yang berkelip, dan planet-planet yang mengorbit, kita mau tidak mau bertanya: alam semesta tercipta dari apa? Jawabannya, berdasarkan pemahaman ilmiah modern, terletak pada sebuah peristiwa singularitas ekstrem yang kita kenal sebagai Dentuman Besar atau Big Bang.
Menurut model kosmologi standar, sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu, seluruh materi dan energi yang membentuk alam semesta yang kita amati hari ini—termasuk ruang dan waktu itu sendiri—terkompresi menjadi titik tak terhingga kecil dengan kepadatan tak terhingga, yang disebut singularitas. Pada momen ini, pertanyaan "terbuat dari apa?" menjadi ambigu, karena hukum fisika yang kita kenal tidak berlaku. Alam semesta belum terbuat dari materi seperti yang kita definisikan sekarang, melainkan dari suatu bentuk energi atau kondisi pra-materi yang sangat panas dan padat.
Dalam sepersekian detik pertama setelah Big Bang, alam semesta mengalami inflasi kosmik—ekspansi yang sangat cepat. Pada tahap awal ini, energi yang dilepaskan sangatlah masif. Para ilmuwan berspekulasi bahwa alam semesta tercipta dari energi murni yang kemudian bertransformasi sesuai dengan persamaan terkenal Einstein, E=mc². Energi adalah cikal bakal segalanya.
Seiring alam semesta mengembang, ia mendingin. Pendinginan inilah yang memungkinkan energi bertransformasi menjadi bentuk yang lebih stabil dan terstruktur. Inilah tahap kunci di mana kita bisa mulai mengidentifikasi "bahan baku" awal. Pertama, terbentuklah pasangan materi-antimateri, namun terjadi sedikit kelebihan materi yang akhirnya bertahan hidup (sehingga membentuk kita hari ini).
Dalam beberapa menit pertama, suhu turun cukup drastis sehingga quark dan gluon bergabung membentuk proton dan neutron. Ini adalah fondasi dari materi yang kita kenal. Kemudian, sekitar tiga menit setelah Big Bang, proses nukleosintesis Big Bang terjadi, membentuk inti atom paling ringan: Hidrogen (sekitar 75%) dan Helium (sekitar 25%), dengan sedikit Litium. Jadi, secara harfiah, blok bangunan pertama alam semesta yang stabil adalah gas-gas ringan ini.
Meskipun Hidrogen dan Helium membentuk semua bintang, planet, dan diri kita, mereka hanyalah sebagian kecil dari total komposisi alam semesta. Penelitian modern menunjukkan bahwa materi biasa (baryonik) yang kita kenal hanya menyumbang sekitar 5% dari total massa-energi alam semesta. Lalu, sisanya? Alam semesta tercipta dari apa selain materi yang kita sentuh?
Jawabannya adalah Materi Gelap (sekitar 27%) dan Energi Gelap (sekitar 68%).
Materi Gelap adalah komponen misterius yang tidak memancarkan, menyerap, atau memantulkan cahaya, namun memiliki efek gravitasi yang signifikan. Keberadaannya hanya terdeteksi melalui pengaruhnya terhadap gerakan galaksi. Kita belum tahu persis terbuat dari partikel apa Materi Gelap itu, tetapi ia adalah 'perekat' struktural yang memungkinkan galaksi terbentuk dan tetap utuh.
Sementara itu, Energi Gelap adalah kekuatan pendorong yang menyebabkan percepatan ekspansi alam semesta saat ini. Ia bertindak melawan gravitasi dan tersebar merata di seluruh ruang. Energi Gelap adalah komponen yang paling mendominasi, dan misterinya jauh lebih besar daripada Materi Gelap. Para ilmuwan sering menggambarkannya sebagai properti intrinsik dari ruang-waktu itu sendiri.
Jika kita merangkum, secara kronologis, alam semesta tercipta dari energi yang sangat padat pada titik singularitas. Energi ini kemudian berevolusi menjadi partikel fundamental, membentuk Hidrogen dan Helium. Seiring waktu, struktur yang lebih besar terbentuk dari materi biasa, yang kini didominasi oleh pengaruh gravitasi Materi Gelap dan didorong oleh Energi Gelap.
Pada dasarnya, alam semesta adalah sebuah proses transformasi raksasa: dari energi murni menjadi materi elementer, dari atom sederhana menjadi bintang kompleks, dan dari bintang menjadi elemen berat melalui supernova. Misteri terbesar yang tersisa adalah sifat sebenarnya dari dua komponen kosmik yang paling melimpah: Materi Gelap dan Energi Gelap. Penemuan mengenai apa sebenarnya dua entitas ini akan membawa kita selangkah lebih dekat untuk memahami komposisi fundamental dari seluruh realitas.