Surat Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak petunjuk berharga mengenai tauhid, kisah-kisah nabi, serta peringatan keras bagi mereka yang berpaling dari kebenaran. Di antara ayat-ayat yang mengandung perintah tegas dan peringatan tegas adalah arti surat Al-Hijr ayat 94.
Ayat ini merupakan inti dari serangkaian perintah Allah SWT kepada Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan risalah-Nya tanpa gentar, terlepas dari bagaimana reaksi kaum musyrik Makkah. Ayat ini menegaskan prioritas dakwah di atas segala pertimbangan duniawi.
Untuk memahami esensinya, mari kita lihat teks Arab dan terjemahannya:
Terjemahan: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan termasuklah (dalam golongan) orang-orang yang bersujud." (QS. Al-Hijr: 94)
Secara harfiah, ayat ini memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk melakukan dua hal utama setelah menghadapi penolakan atau kesulitan dalam berdakwah: pertama, bertasbih dengan memuji Tuhanmu (Allah); dan kedua, termasuk dalam golongan orang-orang yang bersujud (salat).
Ayat 94 ini menutup bagian pembahasan mengenai kesabaran Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi kedustaan kaum Quraisy. Sebelumnya, Allah SWT telah mengingatkan Nabi tentang keangkuhan kaum tersebut, termasuk kisah Nabi Musa AS dengan kaumnya yang dihancurkan karena kekafiran mereka (ayat 80-84).
Ketika menghadapi situasi di mana dakwah terasa berat, Al-Hijr ayat 94 menjadi 'obat' spiritual dan penegasan ilahiah. Perintah ini bukan hanya ditujukan secara spesifik kepada Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga menjadi pelajaran universal bagi setiap Muslim yang menghadapi ujian atau penolakan saat menjalankan perintah agama.
Tasbih adalah penyucian Allah dari segala kekurangan dan kelemahan. Menggabungkannya dengan "memuji (hamd)" menunjukkan bahwa bentuk ibadah tertinggi adalah menyadari keagungan dan kesempurnaan Allah, terutama saat manusia merasa lemah atau tertekan.
Ketika musuh mengejek atau menolak dakwah, respons terbaik bukanlah membalas ejekan tersebut, melainkan meningkatkan kualitas komunikasi spiritual dengan Sang Pencipta. Ini mengalihkan fokus dari kegagalan interaksi manusiawi kepada kesuksesan hubungan ilahiah. Inilah inti dari ketahanan spiritual seorang dai.
Sujud adalah puncak ketundukan dalam Islam. Dalam konteks ini, bersujud memiliki beberapa makna yang sangat mendalam:
Memahami arti surat Al-Hijr ayat 94 memberikan kerangka kerja yang jelas tentang bagaimana menghadapi disrupsi dalam kehidupan spiritual dan sosial:
Dengan demikian, Al-Hijr ayat 94 adalah manual ketahanan (resiliensi) Islami. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati seorang Muslim terletak pada kemampuannya untuk senantiasa memuji Allah dan merendahkan diri dalam sujud, tidak peduli seberapa keras tantangan eksternal yang menghadang.