Surat Al-Hijr adalah salah satu surat Makkiyah dalam Al-Qur'an, yang diyakini turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Surat ini menempati urutan ke-15 dalam mushaf dan terdiri dari 99 ayat. Nama Al-Hijr sendiri diambil dari ayat 80, merujuk pada sebuah daerah berbatuan tempat tinggal kaum Tsamud, kaum yang diutus Nabi Saleh AS.
Konteks Penamaan dan Kisah Kaum Tsamud
Arti dari Surat Al-Hijr secara harfiah adalah 'Batu Karang' atau 'Tempat yang Dikeraskan'. Penamaan ini menjadi penting karena surat ini secara eksplisit menceritakan tentang azab yang menimpa kaum Tsamud. Kaum Tsamud adalah masyarakat yang makmur dan ahli dalam memahat rumah-rumah mereka dari gunung-gunung batu. Namun, mereka ingkar terhadap ajaran Nabi Saleh dan menantang mukjizat unta betina yang mereka minta sebagai bukti kebenaran risalahnya.
Allah SWT mengisahkan bagaimana kaum Tsamud dihancurkan setelah mereka membunuh unta tersebut. Kisah ini disajikan bukan hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai peringatan keras bagi kaum Quraisy Mekkah pada saat itu, yang juga menyombongkan diri dan menolak keras dakwah Islam. Pesan utamanya adalah: kesombongan terhadap mukjizat dan peringatan ilahi akan berujung pada kehancuran yang nyata.
Tema Utama dan Penekanan Teologis
Selain kisah kaum Tsamud, Surat Al-Hijr kaya akan penekanan teologis yang mendasar:
- Tauhid dan Kebenaran Wahyu: Surat ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan Allah dan dijaga kemurniannya. Ini adalah bantahan tegas terhadap tuduhan kaum kafir bahwa Al-Qur'an adalah buatan atau sihir.
- Kekuasaan Penciptaan: Allah mengingatkan manusia akan kekuasaan-Nya yang tak terbatas melalui penciptaan langit, bumi, dan segala isinya. Ayat-ayat yang menjelaskan tentang matahari, bulan, dan bintang berfungsi sebagai bukti keesaan-Nya.
- Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Luth: Terdapat pula kisah interaksi Nabi Ibrahim AS dengan para malaikat yang datang memberi kabar gembira tentang kelahiran Ishaq, sekaligus menyampaikan kabar buruk tentang pemusnahan kaum Nabi Luth AS.
Pelajaran dari Kisah Iblis dan Kesombongan
Salah satu bagian paling kuat dari arti surat Al-Hijr adalah dialog antara Allah dan Iblis mengenai perintah sujud kepada Nabi Adam AS. Iblis menolak karena kesombonganāia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah.
Penolakan Iblis ini menjadi tolok ukur utama kesombongan yang dilarang dalam Islam. Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa kedudukan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh asal usul materi penciptaan, melainkan oleh ketaatan dan ketundukan pada perintah-Nya. Kesombongan adalah dosa pertama yang menyebabkan Iblis terusir dari rahmat Allah.
Anjuran untuk Bersabar dan Bersyukur
Di tengah ancaman azab yang disebutkan bagi kaum yang ingkar, Surat Al-Hijr juga memberikan penyejuk bagi para Nabi dan pengikut yang beriman. Allah memerintahkan Rasulullah untuk bersabar dalam menghadapi cercaan dan gangguan kaumnya. Janji pertolongan dan balasan akan diberikan bagi mereka yang teguh memegang kebenaran.
Surat ini juga menekankan pentingnya bersyukur atas rezeki (rizq) yang diberikan Allah. Bahkan ketika dihadapkan pada kesulitan, seorang mukmin harus meyakini bahwa Allah Maha Pemberi rezeki. Inilah fondasi ketenangan batin yang diajarkan oleh Al-Hijr.
Penutup: Keindahan dan Peringatan yang Abadi
Secara keseluruhan, Surat Al-Hijr berfungsi ganda: sebagai peringatan keras bagi mereka yang meremehkan wahyu dan sebagai penghibur serta penguat iman bagi kaum muslimin yang teraniaya. Pemahaman mendalam mengenai arti surat Al-Hijr mengajak kita untuk merenungkan dampak nyata dari kesombongan (seperti kaum Tsamud dan Iblis) dan keutamaan sikap rendah hati serta ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta.