Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil (Anak-anak Israel), adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang memuat banyak kisah dan peringatan penting. Ayat pertama dari surat ini membuka lembaran sejarah dengan sebuah peristiwa agung yang menjadi mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad SAW, yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj. Memahami **arti surat Al-Isra ayat 1 5** memberikan landasan kuat tentang kebenaran risalah kenabian dan kekuasaan mutlak Allah SWT.
Ayat-ayat awal ini tidak hanya menceritakan perjalanan fisik, tetapi juga menyoroti keagungan Allah dan peringatan-peringatan awal bagi Bani Israil mengenai kehancuran mereka akibat perbuatan maksiat.
Ayat pertama ini secara eksplisit menegaskan kebesaran dan kemahakuasaan Allah SWT. Kata "Subhanallah" (Maha Suci Allah) menandakan bahwa peristiwa yang dijelaskan—perjalanan dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem)—adalah sesuatu yang melampaui akal dan kebiasaan manusia normal. Ini adalah perjalanan malam (Isra’) yang penuh dengan keajaiban, tujuannya adalah menunjukkan sebagian tanda kebesaran Allah kepada Rasulullah SAW, sebagai penguatan iman beliau dan umatnya.
Setelah menggarisbawahi mukjizat Nabi Muhammad, ayat kedua beralih fokus pada sejarah Bani Israil. Allah mengingatkan bahwa mereka telah dianugerahi wahyu yang agung, yaitu Kitab Taurat, sebagai petunjuk. Peringatan keras disampaikan: "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku." Ini adalah inti tauhid. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat kepada kaum Muslimin agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan menjadikan selain Allah sebagai sandaran utama.
Ayat ini melanjutkan konteks peringatan dengan menghubungkan Bani Israil dengan generasi yang diselamatkan dari banjir besar bersama Nabi Nuh AS. Penekanan diberikan pada status Nabi Nuh sebagai "hamba yang sangat bersyukur." Ini menyiratkan bahwa keselamatan dan rahmat ilahi—baik bagi kaum Nabi Nuh maupun Bani Israil—selalu diberikan kepada mereka yang bersyukur dan taat, bukan karena keturunan semata.
Ini adalah inti peringatan keras. Allah memberitahu Bani Israil melalui Taurat bahwa mereka akan melakukan dua kali kerusakan besar di muka bumi. Kerusakan pertama sering diartikan sebagai penghancuran Baitul Maqdis (Kuil Yerusalem) oleh Raja Nebukadnezar karena pembunuhan para nabi dan pelanggaran perjanjian. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui segala perbuatan mereka di masa depan, termasuk kecenderungan mereka untuk congkak dan melampaui batas (tadarrub).
Ayat kelima menjelaskan konsekuensi dari pelanggaran pertama. Allah mengirimkan pasukan yang sangat keras azabnya untuk menghukum mereka. Sejarawan menafsirkan ini sebagai invasi yang membawa kehancuran total. Penegasan bahwa "itulah janji yang pasti terlaksana" menegaskan konsistensi hukum Allah: kezaliman dan kesombongan pasti akan dibalas dengan hukuman yang setimpal, tanpa pandang bulu terhadap siapa pun yang melanggar batas.
Kajian mendalam mengenai **arti surat Al-Isra ayat 1 5** menawarkan dua pelajaran utama. Pertama, penguatan keyakinan akan mukjizat Nabi Muhammad SAW dan keagungan Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Kedua, pelajaran sejarah yang tegas mengenai nasib umat terdahulu, terutama Bani Israil, yang dihukum bukan karena nasab mereka, melainkan karena penyimpangan akidah (menjadikan selain Allah sebagai pelindung) dan keangkuhan moral. Ayat-ayat ini menjadi cermin bagi umat Islam untuk senantiasa bersyukur, rendah hati, dan berpegang teguh pada petunjuk Ilahi.