Memahami Arti Surat Al-Isra Ayat 1 sampai 3

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 1 hingga 3 dari surat ini memiliki kedalaman makna yang luar biasa, merangkum keagungan Allah SWT, peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, serta memberikan prinsip dasar tentang keesaan Allah dan bagaimana seharusnya manusia bersikap.

Ilustrasi Keagungan dan Perjalanan

Ayat 1: Keagungan Allah dan Peristiwa Isra'

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Ayat pertama ini langsung menegaskan kesempurnaan Allah ("Subhana") dan peristiwa luar biasa yang dialami Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra' (perjalanan malam). Kata 'Isra' merujuk pada perjalanan Nabi dari Ka'bah di Mekkah (Al-Masjidilharam) menuju Baitul Maqdis di Yerusalem (Al-Masjidil Aqsa).

Tujuan dari perjalanan ini bukan sekadar transfer geografis, melainkan untuk menunjukkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagian dari ayat-ayat dan kebesaran Allah di sekitar wilayah yang diberkahi. Wilayah sekitar Al-Aqsa diberkahi karena menjadi tempat turunnya banyak nabi dan menjadi pusat peradaban spiritual. Penutup ayat ini, "Innahu Huwas-Samii’ul-Basiir" (Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat), menegaskan bahwa seluruh peristiwa agung ini terjadi dalam pengawasan penuh dan pengetahuan Allah.

Ayat 2: Pemberian Taurat dan Pembimbingan Bani Israil

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا

Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (seraya berkata): "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."

Setelah menyinggung perjalanan Nabi Muhammad SAW, Allah beralih mengingatkan tentang karunia yang telah diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu Nabi Musa AS. Pemberian Taurat berfungsi sebagai petunjuk (huda) bagi Bani Israil. Namun, penekanan utama dalam ayat ini adalah pada instruksi tegas Allah kepada mereka: **"Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."**

Ini adalah inti dari tauhid (keesaan Allah). Allah mengingatkan bahwa setelah menerima petunjuk berupa kitab suci, satu-satunya yang layak dijadikan sandaran, pelindung, dan penolong adalah Sang Pencipta itu sendiri. Kegagalan Bani Israil di kemudian hari seringkali dikaitkan dengan kecenderungan mereka untuk mencari perlindungan atau otoritas lain selain dari Allah.

Ayat 3: Konsekuensi dari Perbuatan Baik dan Buruk

ذُرِّيَّةَ مَنْ مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

Hai keturunan orang-orang yang Kami selamatkan bersama menaiki bahtera. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang sangat bersyukur.

Ayat ketiga ini mengandung dua poin penting yang saling terkait. Pertama, ia ditujukan kepada keturunan orang-orang yang diselamatkan bersama Nabi Nuh AS dalam bahtera. Walaupun ayat ini berbicara tentang Bani Israil, penyebutan keturunan Nabi Nuh (yang merupakan nenek moyang semua manusia pasca-banjir) menekankan bahwa rahmat Allah meluas kepada mereka yang mengikuti petunjuk, dan bahwa prinsip bersyukur adalah kunci keselamatan.

Kedua, ayat ini memuji Nabi Nuh AS sebagai "Abdasy Syakur" (hamba yang sangat bersyukur). Syukur adalah kualitas utama yang harus diteladani oleh umat manusia, baik yang menerima Taurat maupun yang menerima Al-Qur'an. Rasa syukur ini adalah bentuk pengakuan atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan, termasuk nikmat petunjuk (seperti Taurat dan Al-Qur'an) dan nikmat keselamatan.

Konteks dan Kesimpulan

Ketiga ayat awal Al-Isra ini membuka surat dengan tiga pilar utama: pengakuan akan kebesaran dan kekuasaan Allah yang terwujud dalam peristiwa mukjizat (Isra' Mi'raj), perintah untuk berpegang teguh pada tauhid (tidak mencari pelindung selain Allah), dan anjuran untuk meneladani sifat para nabi terdahulu, khususnya sifat syukur seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Nuh AS.

Dalam konteks mobile web, pemahaman ayat-ayat ini memberikan pelajaran moral dan spiritual yang ringkas namun mendalam, mudah dicerna, dan relevan bagi pembaca modern mengenai hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan pentingnya bersyukur dalam menjalani kehidupan yang penuh ujian.

Ayat-ayat ini secara kolektif mengajarkan bahwa Allah Maha Kuasa untuk menunjukkan tanda-tanda-Nya, bahwa petunjuk Ilahi harus diikuti dengan ketaatan penuh tanpa mencari sandaran lain, dan bahwa rasa syukur adalah ciri khas orang yang diselamatkan.

🏠 Homepage