Isra' (Perjalanan Malam)

Visualisasi Perjalanan Suci

Memahami Arti Surat Al-Isra Ayat 1

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat di Al-Qur'an yang sarat dengan mukjizat dan kisah penting dalam sejarah kenabian. Ayat pertama dari surat ini seringkali menjadi pembuka yang sangat mendalam, memberikan landasan atas peristiwa luar biasa yang akan dijelaskan selanjutnya. Memahami arti Surat Al-Isra ayat 1 adalah kunci untuk mengapresiasi keagungan dan kekuasaan Allah SWT.

Teks Arab dan Terjemahan Ayat

Berikut adalah teks asli ayat yang menjadi fokus pembahasan:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra [17]: 1)

Penjelasan Mendalam tentang Ayat Pertama

Ayat pembuka ini mengandung empat pilar utama informasi yang sangat penting dalam Islam:

1. Pengakuan Ketuhanan (Tasbih)

Kalimat pembuka, "Subhanallah" (Maha Suci Allah), adalah penekanan bahwa peristiwa yang akan dijelaskan—sebuah perjalanan mustahil secara kasat mata manusia—hanya mungkin terjadi atas kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan. Ini adalah pengakuan bahwa Allah jauh melampaui segala keterbatasan akal manusia. Perjalanan ini, Isra’ Mi’raj, adalah bukti nyata keagungan-Nya yang tidak dapat dijangkau oleh pemikiran biasa.

2. Subjek Perjalanan (Hamba-Nya)

Allah menyebut Nabi Muhammad ﷺ sebagai "Abdih" (Hamba-Nya). Pemilihan diksi ini sangat bermakna. Meskipun Nabi ﷺ adalah Rasul yang paling mulia, penyebutan status kehambaan menegaskan posisi beliau sebagai representasi terbaik umat manusia dalam ketaatan dan kepatuhan total kepada Sang Pencipta. Status ini menunjukkan bahwa kemuliaan tertinggi diraih melalui penghambaan diri yang sejati.

3. Perjalanan Dua Fase (Isra’ dan Mi’raj)

Ayat ini secara eksplisit menyebutkan bagian pertama dari mukjizat tersebut, yaitu Isra' (Perjalanan Malam). Isra' adalah perjalanan fisik Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram (Mekkah) menuju Masjidil Aqsa (Yerusalem). Meskipun ayat ini fokus pada Isra’, ia mengisyaratkan perjalanan lanjutan, Mi'raj (kenaikan ke langit), yang dijelaskan lebih rinci dalam hadis-hadis sahih. Perjalanan ini dilakukan pada "suatu malam", menekankan aspek kerahasiaan dan keajaiban waktu.

4. Keberkahan Lokasi dan Tujuan

Ayat ini menjelaskan bahwa Masjidil Aqsa diberkahi di sekelilingnya ("barakna hawlahu"). Keberkahan ini meliputi aspek spiritual, historis (sebagai tempat para nabi terdahulu), dan material. Tujuan utama perjalanan ini adalah agar Nabi ﷺ "memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami". Ini bukan sekadar perjalanan rekreasi, melainkan misi ilahi untuk menguatkan iman beliau dan umatnya dengan menyaksikan langsung keajaiban Kosmos.

Hikmah Penting dari Arti Surat Al-Isra Ayat 1

Memahami ayat ini membawa beberapa hikmah mendasar bagi kehidupan seorang Muslim:

Penutup ayat, "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat", menutup dengan penegasan bahwa Allah menyaksikan setiap peristiwa, setiap bisikan hati, dan setiap langkah perjalanan hamba-Nya. Tidak ada satu pun peristiwa besar atau kecil yang luput dari pengawasan-Nya yang sempurna.

🏠 Homepage