Konteks Turunnya Ayat
Surah Al-Ma'idah (Hidangan) adalah salah satu surah Madaniyah terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat 114, khususnya, memiliki kedalaman sejarah dan teologis yang signifikan karena berkaitan langsung dengan mukjizat yang dianugerahkan kepada Nabi Isa bin Maryam AS, yakni permintaan hidangan (meja terhidang) dari langit.
Ayat ini merupakan puncak dari dialog atau tuntutan yang diajukan oleh segolongan kaum Hawariyyin (pengikut setia Nabi Isa) kepada Nabi mereka. Mereka merasa perlu adanya bukti nyata yang berkelanjutan untuk menguatkan iman mereka dan menetapkan otoritas kenabian Isa di hadapan orang-orang yang meragukan, terutama setelah mereka beriman penuh.
Teks Ayat 114 Surah Al-Ma'idah
Makna Mendalam Permintaan
Doa Nabi Isa AS dalam ayat ini tidak sekadar permintaan akan makanan jasmani. Doa tersebut mengandung tiga tujuan besar yang fundamental bagi sebuah komunitas spiritual:
1. Sebagai 'Iidan (Hari Raya atau Tanda Kebahagiaan)
Permintaan agar hidangan tersebut menjadi 'Idan bagi orang-orang terdahulu dan yang akan datang menunjukkan bahwa mukjizat ini dimaksudkan sebagai perayaan iman yang abadi. Ini adalah penegasan bahwa anugerah Allah harus selalu dikenang dan dirayakan sebagai bukti nyata pertolongan ilahi. Bagi generasi penerus, kisah ini menjadi penguat keyakinan bahwa Allah mampu memberikan rezeki di luar batas kebiasaan alamiah.
2. Sebagai Ayat (Tanda Kebesaran) dari Allah
Tujuan utama dari setiap mukjizat adalah memberikan 'Ayat'—tanda yang jelas—yang membuktikan kebenaran kerasulan dan keesaan Allah. Hidangan yang turun langsung dari langit adalah bukti tak terbantahkan bahwa Nabi Isa diizinkan oleh Tuhannya untuk melakukan hal luar biasa tersebut. Ini menempatkan otoritas mukjizat tersebut secara eksklusif di bawah kehendak Ilahi, bukan kekuatan manusia.
3. Permohonan Rezeki Terbaik
Klimaks doa Nabi Isa adalah pengakuan totalitas kekuasaan Allah sebagai "Khairur Raziqin" (Pemberi rezeki yang terbaik). Meskipun beliau meminta hidangan spesifik, penutup doa menekankan bahwa dalam segala aspek kehidupan, termasuk kebutuhan mendasar seperti makanan, hanya Allah-lah sumber segala karunia. Ini mengajarkan umat untuk selalu mengarahkan kepasrahan rezeki hanya kepada Sang Pencipta.
Respons Ilahi dan Pelajaran Keimanan
Sebagaimana diceritakan dalam ayat-ayat selanjutnya dalam Surah Al-Ma'idah, Allah SWT mengabulkan permintaan tersebut. Hidangan turun dari langit, yang kemudian dimakan oleh mereka. Namun, pengabulan ini disertai dengan peringatan keras. Allah SWT mengingatkan bahwa siapa pun di antara mereka yang setelah itu kufur nikmat (mengingkari atau menyalahgunakan nikmat tersebut), maka Allah akan memberikan azab yang belum pernah diberikan kepada siapapun di seluruh alam.
Peringatan ini sangat krusial. Ini menegaskan bahwa mukjizat dan karunia besar bukanlah lisensi untuk berbuat sesuka hati atau melupakan sumber karunia itu. Sebaliknya, semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk bersyukur dan menjaga kebenaran ajaran. Kisah ini mengajarkan bahwa iman yang sejati diuji bukan hanya saat kekurangan, tetapi juga saat kelebihan dan kemudahan yang datang secara ajaib.
Ayat 114 Surah Al-Ma'idah tetap relevan hingga kini, mengingatkan umat Islam bahwa doa yang tulus, yang memohon bukti kebesaran Allah sekaligus memuji sifat-Nya sebagai Pemberi rezeki terbaik, adalah inti dari penghambaan yang sempurna.