Pembukaan Surat Al-Isra
Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, menempati posisi penting dalam Al-Qur'an. Ayat pertama dari surat ini, yang sering kali menjadi sorotan para mufassir dan penelaah kitab suci, membuka lembaran pembahasan tentang salah satu peristiwa paling menakjubkan dalam sejarah kenabian: Isra’ Mi’raj. Ayat ini, dengan diksi yang ringkas namun sarat makna, menegaskan keagungan dan kekuasaan Allah SWT yang tak terbatas.
Memahami kata per kata dalam ayat ini memberikan dimensi spiritual yang mendalam. Frasa pertama, "Subhanallah" (Mahasuci Allah), adalah pengakuan bahwa peristiwa luar biasa yang akan dijelaskan berada di luar nalar manusia biasa dan hanya mungkin terjadi atas kehendak Ilahi. Ini menetapkan nada penghormatan dan kekaguman sejak awal.
Perjalanan Malam yang Sakral
Inti dari ayat ini adalah deskripsi perjalanan malam (Isra') Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini dimulai dari Masjidilharam di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Secara geografis, ini adalah perjalanan darat yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu, namun dalam hitungan malam, Nabi diperjalankan oleh kuasa Allah. Ayat ini secara eksplisit menyebutkan bahwa tujuan pertama adalah Al-Masjidil Aqsha, yang mana Allah telah memberkahi sekelilingnya. Keberkahan ini menunjukkan signifikansi historis dan spiritual tempat tersebut, yang juga merupakan kiblat pertama umat Islam.
Penekanan pada "sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami" mengindikasikan bahwa Isra’ hanyalah permulaan. Perjalanan tersebut bukanlah sekadar pemindahan fisik, melainkan sebuah tur spiritual dan wahyu. Dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj (kenaikan ke langit), Nabi diperlihatkan berbagai fenomena alam semesta, hukum-hukum kosmik, serta kondisi umat-umat terdahulu, baik yang taat maupun yang membangkang. Ini adalah kesempatan bagi beliau untuk mendapatkan validasi kenabian dan penguatan iman di tengah tantangan dakwah yang berat.
Tujuan dan Hikmah di Balik Isra’
Mengapa perjalanan ini terjadi? Ayat tersebut menjawabnya dengan jelas: "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Hikmah di balik Isra’ Mi’raj sangatlah luas. Salah satunya adalah untuk memberikan penghiburan dan dukungan moral kepada Rasulullah SAW setelah mengalami tahun-tahun yang penuh kesedihan (Amul Huzn), termasuk kehilangan istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib.
Selain itu, pertemuan dengan para nabi terdahulu di berbagai tingkatan langit selama Mi’raj menegaskan kesinambungan risalah kenabian. Ini adalah bukti universalitas ajaran Islam dan posisi tertinggi Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Masjidil Aqsha, sebagai titik akhir Isra’, juga menjadi saksi penting dalam proses pengangkatan beliau menuju Sidratul Muntaha, tempat di mana perintah shalat lima waktu ditetapkan secara langsung oleh Allah SWT, tanpa perantara malaikat Jibril.
Penutup Ayat: Maha Mendengar dan Maha Melihat
Ayat ditutup dengan dua sifat agung Allah: "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Penutup ini berfungsi sebagai penutup yang menenangkan sekaligus peringatan. Allah SWT mendengar setiap doa dan keluhan Nabi, serta melihat setiap detail perjalanan suci tersebut. Ini juga menjadi jaminan bagi setiap mukmin bahwa meskipun amal perbuatan mereka mungkin tersembunyi dari pandangan manusia, tidak ada satu pun yang terlewat dari pengawasan-Nya.
Dengan demikian, Ayat Al-Isra 1 bukan sekadar catatan sejarah sebuah peristiwa ajaib, melainkan fondasi teologis yang menegaskan kebenaran wahyu, kedudukan istimewa Nabi Muhammad, dan kekuasaan mutlak Allah SWT atas seluruh ciptaan-Nya, baik di bumi maupun di alam semesta yang tak terhingga luasnya.