Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Perjalanan luar biasa ini tidak hanya menjadi penguatan spiritual bagi beliau di tengah kesulitan dakwah, tetapi juga menjadi landasan penting bagi umat Islam. Meskipun detail lengkap perjalanan ini diceritakan dalam hadis, Al-Qur'an secara eksplisit menyebutkan peristiwa Isra (perjalanan malam) sebagai penegasan otentisitas kenabian.
Kejadian ini menegaskan kekuasaan Allah SWT yang Maha Agung, yang mampu melakukan hal-hal di luar nalar manusiawi. Memahami peristiwa ini melalui lensa ayat-ayat suci membantu kita menguatkan keyakinan dan keimanan.
Dasar utama mengenai Isra, yaitu perjalanan Nabi dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, termaktub jelas dalam Surah Al-Isra. Ayat ini menjadi titik tolak bagi seluruh penjelasan tentang mukjizat ini:
Ayat ini mengandung beberapa poin penting: Pertama, penekanan pada kesucian Allah (Subhana). Kedua, perjalanan dilakukan pada 'suatu malam'. Ketiga, tujuan awal perjalanan adalah Masjidil Aqsa, tempat yang diberkahi. Keempat, tujuan utama perjalanan tersebut adalah untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Fakta bahwa perjalanan malam dimulai dari Mekkah dan berakhir di Al-Aqsa (diberkahi sekelilingnya) memiliki makna teologis yang mendalam. Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam. Dengan menghubungkan kedua masjid suci ini dalam satu perjalanan malam, Allah SWT menunjukkan kesinambungan risalah kenabian, dari Nabi-nabi terdahulu hingga penutup para nabi, Nabi Muhammad SAW.
Banyak ulama menafsirkan bahwa ayat ini mencakup keseluruhan peristiwa Isra Mi'raj, meskipun kata "Mi'raj" (kenaikan ke langit) tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat ini. Namun, konteks penunjukan tanda-tanda kebesaran Allah secara menyeluruh mengarah pada mukjizat lanjutan yang dialami Nabi di tingkatan langit.
Fokus utama ayat adalah 'agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami'. Ini menunjukkan bahwa Isra Mi'raj bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga sebuah *rukyah* (penglihatan) ilahiah yang bertujuan menguatkan keyakinan Nabi dan umatnya kelak. Tanda-tanda ini bisa berupa pemandangan alam semesta, tingkatan surga dan neraka, hingga peristiwa dialog dengan para nabi terdahulu.
Dalam ayat lain yang memberikan konteks kenabian dan kebenaran wahyu, Allah berfirman:
Perbandingan dengan kisah Nabi Ibrahim AS ini menunjukkan pola ilahi: ketika seorang nabi menghadapi keraguan atau membutuhkan penguatan spiritual tertinggi, Allah akan menampilkan tanda-tanda kebesaran-Nya secara langsung, seperti yang dialami Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mi'raj.
Meskipun ayat Al-Qur'an berfokus pada penguatan akidah dan pengenalan tanda-tanda kebesaran Allah melalui Isra, konsekuensi terbesar dari Mi'raj adalah penetapan kewajiban salat lima waktu sehari semalam. Ini adalah satu-satunya ibadah yang diwajibkan langsung oleh Allah SWT di hadirat-Nya, tanpa perantara malaikat Jibril turun membawa wahyu di bumi.
Keistimewaan ini menegaskan posisi sentral salat dalam Islam. Perjalanan spiritual ini berfungsi membersihkan hati Nabi dari beban dakwah dan mempersiapkan beliau untuk menerima amanah suci yang menjadi tiang agama:
Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Qur'an mengenai Isra, terutama Surah Al-Isra ayat 1, adalah fondasi keimanan terhadap mukjizat Rasulullah SAW, menegaskan bahwa peristiwa tersebut adalah nyata dan berfungsi sebagai manifestasi tertinggi dari kekuatan, kasih sayang, dan pengajaran Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.