Ilustrasi Perjalanan Malam Langit dan Masjid Al-Aqsa Isra' Mi'raj

Ayat-Ayat Suci Tentang Isra' Mi'raj dalam Al-Qur'an

Perjalanan agung Isra' Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Peristiwa ini bukanlah sekadar kisah historis, melainkan peneguhan keesaan Allah dan kedudukan mulia Rasul-Nya. Meskipun detail perjalanan seperti naiknya Nabi ke Sidratul Muntaha lebih banyak dijelaskan dalam hadis, Al-Qur'an secara eksplisit menyebutkan dua fase krusial dalam dua surah utama.

Kisah ini memberikan pelajaran mendalam mengenai pertolongan ilahi setelah tahun-tahun penuh cobaan yang dihadapi Nabi, khususnya setelah wafatnya sang istri tercinta, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib. Berikut adalah ayat-ayat kunci yang menjadi landasan utama peristiwa bersejarah ini.

1. Ayat tentang Isra' (Perjalanan Malam ke Masjid Al-Aqsa)

Ayat yang menjadi sandaran utama bagi peristiwa Isra' (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) terdapat dalam Surah Al-Isra' ayat pertama. Ayat ini menekankan kesucian Allah yang mampu melakukan perjalanan luar biasa ini:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Subḥānal-ladzī asrā bi-‘abdihi lailam minal-Masjidi-l-Ḥarāmi ilal-Masjidi-l-Aqṣal-ladzī bāraknā ḥawlahu linuriyahu min āyātinā, innahū Huwas-Samī‘ul-Baṣīr.
"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra': 1)

Analisis Ayat:

2. Ayat tentang Mi'raj (Naik ke Surga dan Sidratul Muntaha)

Fase Mi'raj (kenaikan ke langit hingga ke Sidratul Muntaha) tidak disebutkan secara eksplisit dengan kata "Mi'raj" dalam Al-Qur'an, namun sebagian besar mufasir mengaitkannya dengan ayat dalam Surah An-Najm. Ayat ini menjelaskan pertemuan langsung Nabi dengan realitas ilahi di tingkat tertinggi:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ (13) عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ (14) عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (17)
Wa laqad ra’āhu nazlatan ukhrā (13) ‘inda Sidratil-Muntahā (14) ‘indahā jannatul-ma’wā (15) idh yaghsyash-Sidrata mā yaghsyā (16) mā zāghal-baṣaru wa mā ṭaghā (17).
"Dan sungguh (Muhammad) telah melihat Jibril pada dirinya yang kedua kali, (13) di sisi Sidratul Muntaha. (14) Di dekatnya ada Surga tempat tinggal (Jannatul Ma’wa). (15) (Tafsir: Ketika itu) Nabi Muhammad SAW melihat sesuatu yang meliputinya (mencakup) Sidratul Muntaha (16) Penglihatannya (Nabi) tidak berpaling dari apa yang dilihatnya dan tidak pula melampauinya." (QS. An-Najm: 13-17)

Konteks dan Makna:

Ayat-ayat ini sering diinterpretasikan sebagai konfirmasi bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Jibril dalam wujud aslinya sebanyak dua kali, yang kedua kalinya adalah ketika beliau mencapai batas tertinggi langit, yaitu Sidratul Muntaha. Batas ini adalah titik akhir bagi pengetahuan malaikat dan tempat di mana kenikmatan surgawi berada.

Pernyataan "Penglihatannya tidak berpaling dan tidak melampaui" (mā zāghal-baṣaru wa mā ṭaghā) menunjukkan kesempurnaan iman dan fokus Nabi. Beliau tidak teralihkan oleh keindahan atau keagungan pemandangan luar biasa tersebut, menegaskan keteguhan rohaninya saat menerima wahyu dan menyaksikan hakikat alam gaib.

Hikmah dari Ayat-Ayat Isra' Mi'raj

Peristiwa yang didasarkan pada ayat-ayat di atas membawa banyak pelajaran penting:

  1. Penguatan Spiritual: Setelah menghadapi penolakan keras di Thaif, Isra' Mi'raj adalah suntikan spiritual yang menegaskan bahwa perjuangan beliau di jalan Allah tidak sia-sia.
  2. Penetapan Syariat Salat: Selain melihat ayat-ayat kebesaran Allah, Mi'raj adalah momen istimewa di mana Allah mewajibkan salat lima waktu secara langsung kepada Nabi, menjadikannya tiang utama agama.
  3. Kedudukan Nabi: Perjalanan ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan terpilih yang diizinkan menyaksikan rahasia alam semesta yang tidak dapat diakses oleh manusia biasa.

Merenungkan ayat-ayat ini membantu umat Islam memahami betapa luasnya kekuasaan Allah SWT yang dapat memindahkan hamba-Nya melintasi jarak kosmik dalam sekejap mata, semata-mata untuk menunjukkan tanda-tanda keagungan-Nya.

🏠 Homepage