Masjid Al-Aqsa, yang terletak di Yerusalem, bukan sekadar bangunan bersejarah; ia adalah salah satu lokasi paling suci dalam Islam, sering disebut sebagai Al-Haram Al-Syarif. Keutamaan masjid ini diabadikan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, menegaskan statusnya sebagai tempat ibadah yang penuh berkah dan memiliki makna spiritual mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Pemahaman mengenai ayat-ayat Al-Qur'an yang merujuk pada masjid ini memberikan perspektif yang jelas tentang posisi sentralnya dalam tradisi kenabian, terutama kaitannya dengan peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW.
Ayat yang paling eksplisit merujuk pada Masjid Al-Aqsa adalah yang menceritakan peristiwa Isra' (perjalanan malam) Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju ke masjid terjauh.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
(QS. Al-Isra' [17]: 1)
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "Al-Masjidil Aqsa" (Masjid yang paling jauh). Para mufassir sepakat bahwa yang dimaksud di sini adalah kompleks masjid yang berada di Yerusalem. Penambahan frasa "yang telah Kami berkahi sekelilingnya" menegaskan bahwa bukan hanya bangunan masjid itu sendiri yang mulia, tetapi juga wilayah di sekitarnya memiliki keberkahan ilahiyah. Keberkahan ini mencakup dimensi spiritual, historis, dan bahkan material.
Selain merujuk langsung pada nama masjid, Al-Qur'an juga memberikan penegasan mengenai kesucian dan keutamaan tanah Palestina, tempat Masjid Al-Aqsa berdiri. Hal ini terdapat dalam kisah Nabi Musa AS dan Bani Israil.
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
(QS. Al-Baqarah [2]: 155 - Ayat ini sering dikaitkan dengan janji kepemilikan tanah yang diberkahi setelah pengorbanan)
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
Dalam konteks yang lebih luas mengenai negeri Syam (Levant), termasuk area Al-Aqsa, Al-Qur'an menyatakan keistimewaannya. Imam Ibnu Katsir dan banyak ulama lainnya mengaitkan ayat-ayat tentang pewarisan bumi (khilafah) setelah kehancuran generasi sebelumnya, menunjuk kepada bumi yang diberkahi tersebut. Keberkahan ini menandakan bahwa wilayah tersebut adalah tempat turunnya banyak nabi dan menjadi kiblat pertama umat Islam selama periode awal dakwah Nabi Muhammad SAW.
Meskipun Al-Qur'an secara spesifik menyebutkan Al-Aqsa dalam konteks Isra', keutamaannya juga diperkuat oleh Hadis, yang mana hal ini merupakan penjelas terhadap makna Al-Qur'an. Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam. Salat yang dilaksanakan di dalamnya memiliki keutamaan berlipat ganda dibandingkan dengan salat di tempat lain.
Keberkahan yang melekat pada sekeliling Al-Aqsa menjadikan masjid ini bukan hanya pusat ibadah ritual, tetapi juga pusat pendidikan, tempat suaka, dan simbol persatuan umat. Oleh karena itu, ayat-ayat yang merujuk padanya menekankan pentingnya menjaga, menghormati, dan membebaskan tempat suci ini dari segala bentuk penodaan.
Secara total, Al-Qur'an menggarisbawahi bahwa Masjid Al-Aqsa adalah titik geografis dan spiritual yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai area yang diberkahi, tempat di mana mukjizat besar kenabian terjadi, dan situs yang harus dijaga kemuliaannya oleh setiap Muslim.