Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-48 dari surah ini memiliki posisi sentral dalam menjelaskan prinsip fundamental Islam mengenai keadilan, otoritas kitab suci, dan toleransi beragama dalam konteks persaingan dalam kebaikan (fastabiqul khairat).
Memahami bacaan Al-Maidah ayat 48 bukan hanya tentang melafalkan teks Arabnya, tetapi juga meresapi makna yang terkandung di dalamnya, yaitu pentingnya kepemimpinan yang adil berdasarkan wahyu Tuhan dan pengakuan terhadap kebenaran Taurat dan Injil sebagai kitab-kitab terdahulu.
Ilustrasi Konsep Keadilan dan Wahyu
Berikut adalah teks lengkap dari bacaan Al-Maidah ayat 48:
Latin: Wa anzilna ilaykal-kitaaba bil-haqqi musaddiqal lima bayna yadayhi minal-kitaabi wa muhaimina 'alaihi fahkum baynahum bimaa anzalallaahu wa laa tattabi' ahwaa'ahum 'ammaa jaa'aka minal-haqq, likullin ja'alnaa minkum syyr'atan wa minhaajan, wa lau syaa'allahu la ja'alakum ummatan waahidatan wa laakin liyabluwakum fii maa aataakum fastabiquul khayraat, ilallahi marji'ukum jami'an fayunabbi'ukum bima kuntum fiihi takhtalifun.
Ayat ini mengandung tiga perintah dan beberapa prinsip teologis yang mendalam. Pertama, perintah untuk berhukum (memimpin) berdasarkan apa yang diwahyukan Allah (syariat Islam). Ini adalah landasan utama bagi kepemimpinan yang sahih.
Kedua, penekanan pada fungsi Al-Qur'an sebagai Muhaimin (pengawas atau penjaga). Artinya, Al-Qur'an membenarkan bagian-bagian terdahulu yang masih otentik, sekaligus meluruskan penyimpangan atau menasakh (membatalkan) hukum yang sudah tidak relevan lagi.
Ketiga, pengakuan akan pluralitas metodologi agama. Frasa "likullin ja'alnaa minkum syir'atan wa minhaajan" menegaskan bahwa Allah menetapkan syariat yang berbeda bagi umat-umat terdahulu. Perbedaan ini adalah ujian, bukan sumber perpecahan permanen. Inilah yang membawa pada pesan sentral ayat ini: fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan).
Fokus umat Islam, meskipun memiliki syariat final (Al-Qur'an), adalah bersaing dalam amal saleh dan kebajikan moral, karena di akhirat nanti, semua perbedaan duniawi akan diperjelas oleh Allah SWT. Memahami bacaan Al-Maidah ayat 48 secara utuh mendorong umat untuk menjaga keadilan, menghormati kebenaran dalam wahyu sebelumnya, dan yang terpenting, berlomba mencapai derajat tertinggi dalam kebaikan praktis.