Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Surat ini tergolong Makkiyah dan terdiri dari 99 ayat. Nama Al-Hijr sendiri diambil dari kisah kaum Tsamud, kaum Nabi Shalih AS, yang dihancurkan karena menolak mukjizat unta yang diminta oleh kaum mereka.
Mempelajari dan membaca surat ini memberikan banyak pelajaran penting mengenai keesaan Allah, tantangan para nabi, dan peringatan keras bagi mereka yang ingkar. Berikut adalah inti dari bacaan surat Al-Hijr beserta beberapa ayat pentingnya.
Surat ini diawali dengan penekanan terhadap kebenaran Al-Qur'an. Allah SWT bersumpah bahwa ayat-ayat-Nya adalah wahyu yang nyata. Tema utama yang dibahas meliputi:
- Keagungan Al-Qur'an: Penegasan bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran hakiki.
- Kisah Kaum Nabi Shalih (Tsamud): Peringatan tentang kaum yang membangkang meskipun telah diberi mukjizat jelas (unta betina). Mereka tinggal di daerah Al-Hijr.
- Kesombongan Iblis: Kisah penolakan Iblis (Setan) untuk bersujud kepada Nabi Adam AS karena kesombongan dan merasa lebih mulia.
- Perintah Bersabar dan Tawakal: Pesan kepada Nabi Muhammad SAW untuk tetap teguh dan bersabar menghadapi ejekan kaum kafir.
الٓمٓ ۚ تِلْكَ ءَايَـٰتُ ٱلْكِتَـٰبِ وَقُرْءَانٍ مُّبِينٍ
(1) Alif, Laam, Raa. Itulah ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) dan Kitab yang menjelaskan.
ٱلَّذِينَ جَعَلُوا ٱلْقُرْءَانَ عِضِينَ
(91) (yaitu) orang-orang yang menjadikan Al-Qur'an itu terbagi-bagi (terpecah belah).
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
(99) Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian).
Ayat terakhir ini (99) menjadi penutup yang kuat, berisi perintah agar senantiasa beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT tanpa henti hingga ajal menjemput.
Salah satu bagian paling terkenal dari Al-Hijr adalah dialog antara Allah SWT dengan para Malaikat mengenai penciptaan Adam dan respons Iblis. Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai penghormatan atas kedudukan makhluk baru ciptaan-Nya.
Iblis menolak karena kesombongan, merasa superioritasnya sebagai makhluk yang diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Penolakan ini mengakibatkan laknat Allah dan diusirnya Iblis dari rahmat-Nya. Ini adalah pelajaran fundamental tentang bahaya kesombongan dan pentingnya kepatuhan mutlak kepada perintah Ilahi.
قَالَ يَـٰٓإِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّـٰجِدِينَ
(32) Allah berfirman: "Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk turut bersama-sama mereka yang bersujud?"
قَالَ لَمْ أَكُن لِّأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُۥ مِن صَلْصَـٰلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
(33) Iblis menjawab: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada seorang manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk."
Surat Al-Hijr juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. Meskipun mereka dihadapkan pada ujian berat dan olok-olok, Allah menjamin bahwa Dia akan menjaga Al-Qur'an dari pemalsuan atau perubahan total. Hal ini ditegaskan dalam ayat:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ
(9) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami pula penjaganya.
Ayat ini menjadi sumber ketenangan bagi umat Islam bahwa sumber utama ajaran mereka akan selalu terjaga keasliannya hingga akhir zaman. Selain itu, surat ini juga memberikan janji bahwa mereka yang beriman akan diizinkan menikmati surga sebagai balasan atas kesabaran dan ketekunan mereka dalam beribadah, sebagaimana diisyaratkan dalam janji kenikmatan surga (ayat 45-48).
Membaca Surat Al-Hijr secara rutin tidak hanya membantu kita memahami sejarah kenabian dan peringatan Ilahi, tetapi juga menguatkan tekad untuk selalu taat, menjauhi kesombongan, dan beribadah hingga akhir hayat.