Ilustrasi simbolik dari perjalanan Isra' Mi'raj yang diawali pada Surat Al-Isra.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Isra'il, adalah surat ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Ayat pertamanya merupakan salah satu ayat yang paling monumental dan sarat makna dalam seluruh Al-Qur'an. Ayat ini tidak hanya menjadi pembuka sebuah surat, tetapi juga menjadi saksi sejarah atas mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW, yaitu perjalanan agung Isra' Mi'raj.
Kalimat pertama, "Subhaanalladzii asraa bi 'abdihii lailam...", dimulai dengan tasbih (penyucian) kepada Allah SWT. Kata "Subhan" menegaskan bahwa peristiwa yang akan dijelaskan adalah luar biasa, melampaui nalar akal manusia biasa, dan hanya mungkin terjadi karena kekuasaan Allah yang Maha Suci dari segala kekurangan. Perjalanan ini dilakukan pada waktu "lailan" (di malam hari), menekankan sisi kerahasiaan dan keajaiban peristiwa tersebut yang terjadi ketika dunia sedang terlelap.
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan dua lokasi utama: Al-Masjidil Haram (Masjidil Haram di Mekkah) dan Al-Masjidil Aqsa (Masjid Al-Aqsa di Yerusalem). Perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem inilah yang dikenal sebagai Isra'. Ini adalah perjalanan darat yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan, namun dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam satu malam. Hal ini menjadi bukti nyata keutamaan beliau dan karunia ilahi yang diberikan kepadanya.
Lokasi tujuan, Al-Masjidil Aqsa, diberi penekanan khusus dengan frasa "yang telah Kami berkahi sekelilingnya". Berkah di sekelilingnya merujuk pada limpahan rahmat, kesuburan tanah, serta banyaknya nabi-nabi saleh yang pernah hidup dan diutus di wilayah tersebut. Dengan mempertemukan Nabi Muhammad di sana, Allah menegaskan kesinambungan risalah para nabi terdahulu, menempatkan beliau sebagai penutup para rasul.
Tujuan dari perjalanan ini diungkapkan dengan jelas: "agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami". Mukjizat Isra' Mi'raj bukan sekadar hiburan atau tontonan, melainkan sebuah pendidikan ilahiyah yang mendalam bagi Rasulullah SAW. Beliau diperlihatkan aspek-aspek alam semesta, surga, neraka, dan realitas spiritual yang tidak dapat diakses oleh mata biasa. Ini bertujuan untuk menguatkan keyakinan Nabi di tengah tantangan dakwahnya, sekaligus menyiapkan beliau untuk tugas risalah yang lebih besar.
Ayat diakhiri dengan penegasan dua sifat inti Allah SWT: "Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Innallahu Huwas Samii'ul Bashiir). Setelah menggambarkan mukjizat visual dan spiritual yang luar biasa, penutup ini mengingatkan bahwa Allah menyaksikan setiap gerak-gerik hamba-Nya, mendengar setiap doa dan bisikan hati, serta melihat segala yang tersembunyi maupun yang tampak. Sifat ini memberikan rasa aman bagi orang-orang beriman bahwa pengorbanan dan perjuangan mereka tidak akan sia-sia karena Allah Maha Mengetahui.
Memahami bacaan Surat Al-Isra ayat 1 berarti memahami fondasi keimanan terhadap keajaiban kuasa Allah, kesinambungan risalah kenabian, dan pentingnya penguatan spiritual melalui bukti-bukti nyata kekuasaan Ilahi.
Setelah Isra' (perjalanan malam), barulah terjadi Mi'raj (kenaikan vertikal ke langit), yang tidak disebutkan secara detail dalam ayat ini, tetapi menjadi kesatuan mukjizat yang agung. Ayat pembuka ini berfungsi sebagai gerbang menuju pemahaman yang lebih luas mengenai peran Nabi Muhammad sebagai hamba pilihan yang menerima bimbingan langsung dari Yang Maha Agung.
Oleh karena itu, mengulang bacaan ayat ini adalah upaya untuk selalu menyucikan hati (Subhanallah) dan menyadari bahwa setiap peristiwa, betapapun mustahilnya, berada dalam genggaman Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.