AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah stadium akhir dari infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). HIV menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh rentan terhadap berbagai infeksi oportunistik dan kanker tertentu. Penting untuk dipahami bahwa HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda; seseorang yang terinfeksi HIV belum tentu mengidap AIDS. Namun, tanpa pengobatan, infeksi HIV hampir selalu berkembang menjadi AIDS. Mengenali ciri-ciri penyakit AIDS sangat krusial untuk penanganan medis segera.
Sebelum membahas gejalanya, penting untuk menggarisbawahi perbedaan fundamental. HIV adalah virusnya itu sendiri, yang dapat berada dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa menunjukkan gejala (fase tanpa gejala). Diagnosis AIDS ditetapkan ketika jumlah sel CD4 (jenis sel darah putih penting untuk kekebalan tubuh) turun di bawah 200 sel per milimeter kubik darah, atau ketika muncul infeksi oportunistik yang spesifik.
Gejala yang muncul pada stadium AIDS seringkali merupakan manifestasi dari penyakit lain yang berhasil menginfeksi tubuh karena kekebalan yang sangat lemah. Gejala ini biasanya muncul setelah bertahun-tahun terinfeksi HIV tanpa pengobatan.
Salah satu tanda paling umum dan mengkhawatirkan adalah penurunan berat badan yang signifikan dan tidak dapat dijelaskan, sering disebut sebagai "Wasting Syndrome." Pasien kehilangan massa otot dan lemak secara cepat, meskipun nafsu makan mungkin masih ada.
Kelelahan yang ekstrem (fatigue) yang tidak hilang meskipun sudah beristirahat cukup sering terjadi. Selain itu, demam yang datang dan pergi secara berkala (intermiten) selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan merupakan indikasi bahwa tubuh sedang berjuang melawan infeksi yang mengakar.
Ini adalah ciri khas AIDS. Karena sistem imun sudah sangat rusak, infeksi yang biasanya mudah ditangani oleh orang sehat menjadi ancaman serius. Contohnya meliputi:
HIV dapat secara langsung menyerang sistem saraf pusat, menyebabkan komplikasi neurologis yang dikenal sebagai HIV-Associated Neurocognitive Disorders (HAND). Gejala dapat berupa:
Masalah pada kulit dan selaput lendir sangat sering terjadi pada stadium AIDS:
Berkat kemajuan ilmu kedokteran, terutama dengan adanya Terapi Antiretroviral (ARV), perkembangan dari HIV menjadi AIDS dapat dicegah atau diperlambat secara signifikan. Orang dengan HIV yang rutin mengonsumsi ARV sesuai anjuran dapat memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan populasi umum dan tidak akan mencapai stadium AIDS. ARV bekerja menekan replikasi virus, memungkinkan sistem kekebalan tubuh (sel CD4) untuk pulih.
Meskipun pengobatan modern dapat mengendalikan virus, pemahaman mengenai ciri-ciri penyakit AIDS tetap relevan bagi mereka yang terlambat mendapatkan diagnosis atau pengobatan. Edukasi tentang penularan HIV dan pentingnya pengujian adalah kunci utama dalam mengendalikan epidemi ini dan menyelamatkan nyawa.