Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4 T helper. Jika tidak diobati, HIV dapat berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), yaitu stadium akhir infeksi HIV di mana kerusakan sistem kekebalan tubuh sudah sangat parah. Mengenali ciri-ciri penyakit HIV/AIDS sangat penting untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat.
Penting untuk dipahami bahwa gejala HIV tidak selalu muncul secara instan. Tahapan infeksi HIV dibagi menjadi beberapa fase, dan ciri-ciri yang muncul sangat bervariasi tergantung pada fase mana pasien berada.
Fase-Fase dan Ciri-Ciri Penyakit HIV
1. Infeksi Primer (Serokonversi)
Ini adalah fase pertama, biasanya terjadi 2 hingga 4 minggu setelah terinfeksi virus. Sekitar 40% hingga 90% orang yang terinfeksi akan mengalami gejala mirip flu. Ciri-ciri pada fase ini seringkali ringan dan mudah diabaikan, karena sering disalahartikan sebagai flu biasa.
- Demam tinggi yang menetap.
- Kelelahan ekstrem dan rasa tidak enak badan.
- Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di ketiak, leher, dan selangkangan.
- Sakit tenggorokan.
- Ruam kulit (rash) non-gatal di berbagai bagian tubuh.
- Nyeri otot dan sendi.
2. Stadium Laten Klinis (Asimtomatik)
Fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun, bahkan hingga sepuluh tahun atau lebih. Selama masa ini, virus terus berkembang biak dan menghancurkan sel CD4, namun penderitanya seringkali tidak menunjukkan gejala eksternal yang jelas. Inilah mengapa tes HIV sangat krusial, karena tanpa gejala, seseorang bisa menularkan virus tanpa menyadarinya. Meskipun asimtomatik (tanpa gejala), beberapa orang mungkin mengalami pembengkakan kelenjar getah bening yang berkepanjangan (Persistent Generalized Lymphadenopathy/PGL).
3. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)
AIDS didefinisikan ketika jumlah sel CD4 turun di bawah 200 sel per milimeter kubik darah (normalnya di atas 500), atau ketika seseorang didiagnosis dengan infeksi oportunistik tertentu. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah, sehingga tubuh rentan terhadap infeksi yang biasanya tidak berbahaya bagi orang dengan sistem imun sehat. Ciri-ciri utama pada fase AIDS adalah munculnya berbagai penyakit oportunistik.
Ciri-Ciri Infeksi Oportunistik yang Menandakan AIDS:
- Penurunan Berat Badan Drastis (Wasting Syndrome): Kehilangan berat badan lebih dari 10% dari berat badan awal tanpa sebab yang jelas.
- Infeksi Jamur Parah: Seperti kandidiasis oral (sariawan parah) yang meluas hingga ke kerongkongan, atau kandidiasis paru.
- Pneumocystis Pneumonia (PCP): Infeksi paru-paru serius yang disebabkan oleh jamur.
- Kanker Tertentu: Terutama Sarkoma Kaposi (lesi kulit berwarna ungu atau coklat gelap) dan limfoma non-Hodgkin.
- TBC (Tuberkulosis): TBC yang aktif dan sulit diobati.
- Infeksi Bakteri Kronis: Seperti mikobakterium avium complex (MAC) yang menyebabkan demam, diare, dan penurunan berat badan.
- Diare Kronis: Diare yang berlangsung lebih dari sebulan.
- Gangguan Neurologis: Seperti HIV-associated dementia (HIVD) yang memengaruhi memori dan konsentrasi.
Pentingnya Deteksi Dini
Tidak ada satu pun ciri tunggal yang pasti mengkonfirmasi seseorang mengidap HIV. Gejala awal sangat umum dan sering disalahpahami. Oleh karena itu, cara paling pasti untuk mengetahui status HIV adalah melalui tes darah. Jika seseorang merasa pernah melakukan kontak berisiko, sangat disarankan untuk segera melakukan tes. Penemuan dini memungkinkan seseorang untuk memulai Terapi Antiretroviral (ARV) segera. Dengan ARV, perkembangan virus dapat ditekan, sistem kekebalan tubuh dapat dipertahankan, dan seseorang dengan HIV dapat menjalani hidup sehat, produktif, serta mencegah penularan lebih lanjut.
Pencegahan penularan dimulai dari kesadaran akan risiko dan perilaku aman. Jangan biarkan ketidaktahuan mengenai ciri-ciri penyakit HIV/AIDS menunda langkah pencegahan dan pengobatan yang krusial.