Akhlak terpuji sering kali diasosiasikan dengan interaksi kita terhadap orang lain—seperti jujur, sabar, dan dermawan. Namun, fondasi dari semua perilaku baik tersebut berakar dari bagaimana kita memperlakukan dan menghargai diri kita sendiri. Akhlak terpuji kepada diri sendiri adalah prasyarat penting sebelum kita bisa memancarkan kebaikan kepada lingkungan sekitar. Ketika diri kita seimbang, sehat secara mental dan spiritual, maka segala tindakan kita akan lebih tulus dan konsisten.
Memelihara diri sendiri bukan berarti egois, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab moral. Islam menekankan konsep muhasabah (introspeksi) dan mujāhadah (perjuangan melawan hawa nafsu) yang semuanya diarahkan untuk memperbaiki kualitas diri. Tanpa fondasi ini, usaha kita berbuat baik kepada orang lain bisa jadi hanya bersifat formalitas atau bahkan didorong oleh keinginan mencari pujian.
Visualisasi Keseimbangan Diri
Bagaimana praktik akhlak terpuji ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari? Ini melibatkan serangkaian kebiasaan yang membangun integritas personal. Berikut adalah beberapa contoh utama:
Tubuh adalah titipan suci. Akhlak terpuji menuntut kita untuk tidak menyia-nyiakannya dengan perbuatan yang merusak. Ini mencakup pola makan yang sehat, istirahat yang cukup, dan menjaga kebersihan. Mengabaikan kesehatan diri menunjukkan kurangnya rasa syukur dan tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan Allah SWT.
Ini adalah aspek paling menantang. Mampu menahan amarah, menghindari ghibah (bergosip) bahkan saat membicarakan diri sendiri, dan menolak godaan maksiat adalah bentuk kemuliaan diri. Orang yang berakhlak baik pada dirinya adalah orang yang memilih bereaksi dengan bijak, bukan terpancing oleh emosi sesaat.
Kejujuran dimulai dari pengakuan jujur atas kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Ini berbeda dengan merendahkan diri secara berlebihan. Mengakui kesalahan tanpa mencari pembenaran adalah langkah awal menuju perbaikan. Ketika kita jujur pada diri sendiri, kita membuka pintu untuk belajar dan berkembang tanpa rasa malu yang menghambat.
Konsistensi dalam melaksanakan ibadah ritual (salat, puasa, dzikir) adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada diri kita sebagai hamba. Ketika seseorang rutin menjaga hubungannya dengan Tuhan, ia membangun benteng spiritual yang membuatnya tegar menghadapi cobaan duniawi. Ini adalah investasi terbaik untuk ketenangan jiwa.
Tidak berhenti belajar adalah akhlak yang menghargai potensi akal yang dianugerahkan. Ini bisa berupa pendidikan formal, menguasai keterampilan baru, atau bahkan membaca buku yang memperluas wawasan. Diri yang terpuji adalah diri yang terus berupaya menjadi versi terbaik dari dirinya dari waktu ke waktu.
Ketika seseorang berhasil menerapkan akhlak terpuji pada dirinya, dampaknya bersifat revolusioner. Pertama, ia akan mendapatkan sakinah (ketenangan batin). Kedamaian ini bukan berasal dari kondisi luar yang sempurna, melainkan dari keselarasan antara nilai yang diyakini dengan tindakan yang dilakukan.
Kedua, integritas diri meningkat. Ketika nilai-nilai internal kokoh, seseorang tidak mudah goyah oleh opini orang lain. Ia menjadi pribadi yang otentik.
Ketiga, tanggung jawab sosial menjadi lebih besar. Ironisnya, semakin baik seseorang merawat dirinya, semakin besar keinginannya untuk memberikan manfaat. Energi yang tersimpan dari pengendalian diri akan dialirkan menjadi pelayanan nyata bagi sesama. Kita tidak mungkin memberi dari gelas yang kosong.
Membangun akhlak terpuji kepada diri sendiri adalah perjalanan seumur hidup. Ini adalah bentuk penataan batin agar cahaya kebaikan yang kita pancarkan selalu murni dan berkelanjutan, dimulai dari hati dan perilaku kita yang paling dekat: diri kita sendiri.