Perjalanan spiritual yang menghubungkan dua masjid suci umat Islam—Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Yerusalem—merupakan salah satu narasi paling monumental dalam sejarah Islam. Kedua tempat ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat peradaban, spiritualitas, dan sejarah kenabian yang tak terpisahkan.
Masjidil Haram: Titik Awal Keberkahan
Masjidil Haram adalah jantung dunia Muslim, terletak di kota suci Mekkah. Di dalamnya berdiri tegak Ka'bah, kiblat salat seluruh umat Islam di dunia. Masjid ini adalah tempat dilaksanakannya ibadah haji dan umrah, ritual kuno yang terus dihidupkan oleh jutaan Muslim setiap tahunnya. Keutamaan Masjidil Haram sangat besar; satu kali salat di dalamnya dikatakan bernilai seratus ribu kali lipat dibandingkan salat di tempat lain, menjadikannya destinasi primer bagi setiap mukmin yang memiliki kemampuan.
Sejarah Masjidil Haram dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, yang membangun kembali fondasi Ka'bah atas perintah Allah SWT. Tempat ini telah menyaksikan kisah para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW, yang menghabiskan masa kecil dan awal kenabiannya di kota yang diberkahi ini. Aura ketenangan dan ketundukan selalu menyelimuti area pelataran tawaf, menciptakan koneksi langsung antara seorang hamba dengan Penciptanya.
Jarak Spiritual Menuju Al-Quds
Meskipun secara geografis jarak antara Mekkah dan Yerusalem (Al-Quds) sangat signifikan, secara spiritual, kedua masjid ini terhubung erat melalui peristiwa luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW: Isra dan Mi'raj. Isra adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sementara Mi'raj adalah kenaikan Nabi dari Masjidil Aqsa menuju langit tertinggi untuk menerima perintah salat lima waktu.
Perjalanan darat yang ditempuh oleh kafilah pada masa itu membutuhkan waktu berminggu-minggu, namun mukjizat Ilahi memungkinkan Nabi Muhammad SAW menyelesaikan perjalanan ini dalam satu malam saja. Kejadian ini menegaskan status Masjidil Aqsa sebagai pemberhentian pertama dalam perjalanan surgawi tersebut, mengukuhkannya sebagai masjid suci ketiga yang memiliki kedudukan setara dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Masjidil Aqsa: Gerbang Menuju Langit
Masjidil Aqsa, yang terletak di Kompleks Al-Haram Ash-Sharif (Al-Haram Al-Sharif) di Yerusalem Timur, merupakan masjid pertama yang didirikan sebagai tempat sujud bagi umat Islam setelah Ka'bah. Meskipun seringkali disamakan dengan Kubah Batu (Dome of the Rock), Masjidil Aqsa merujuk pada seluruh area suci tersebut, termasuk bangunan utama masjid itu sendiri. Dalam Al-Qur'an, perjalanan Isra dimulai dari 'al-Masjid al-Haram' menuju 'al-Masjid al-Aqsa' (yang terjauh).
Di Masjidil Aqsa inilah Nabi Muhammad SAW diyakini mengumpulkan para nabi terdahulu untuk melaksanakan salat berjamaah, dipimpin oleh beliau sendiri—sebuah penegasan kenabian universal Islam. Setelah itu, beliau memulai Mi'raj, di mana beliau menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Hubungan Tak Terpisahkan
Keterkaitan antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa melampaui sekadar garis peta. Keduanya adalah dua dari tiga masjid utama yang memiliki keutamaan khusus dalam Islam, di mana salat di dalamnya sangat dianjurkan. Pembangunan dan kemakmuran kedua tempat suci ini selalu menjadi fokus perhatian dan cinta umat Islam sepanjang masa.
Narasi dari Mekkah menuju Al-Quds adalah pengingat akan keesaan Allah dan universalitas risalah Islam yang diwariskan oleh para nabi terdahulu. Perjalanan ini berfungsi sebagai jembatan historis dan spiritual, menegaskan bahwa meskipun kiblat telah bergeser ke Ka'bah, memori dan penghormatan terhadap tempat suci pertama, Masjidil Aqsa, tetap harus dijaga dengan segenap jiwa.
Keutamaan Masjidil Aqsa juga didukung oleh hadis yang menyebutkan pahala berlipat ganda bagi yang salat di dalamnya, meski angkanya berbeda-beda dalam riwayat yang shahih, namun tetap menunjukkan keunggulan yang jelas dibandingkan masjid biasa. Oleh karena itu, menjaga dan mendoakan kemakmuran kedua masjid suci ini adalah bagian integral dari keyakinan umat Islam.