Kisah Agung Surah Bani Israil (Al-Isra)

Pengenalan Surah ke-17

Surah Bani Israil, atau yang juga dikenal sebagai Surah Al-Isra (Perjalanan Malam), adalah salah satu surah Makkiyah yang sangat penting dalam Al-Qur'an. Surah ke-17 ini dinamakan 'Bani Israil' (Keturunan Israel) karena merujuk pada ayat-ayat yang membahas tentang kerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil (keturunan Nabi Ya'qub) di muka bumi, serta janji Allah mengenai hukuman dan pengampunan bagi mereka.

Pembukaan surah ini langsung menyoroti salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian, yaitu peristiwa Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini merupakan penegasan ilahi atas kedudukan beliau setelah mengalami tahun-tahun penuh cobaan di Makkah. Isra adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Mi'raj adalah kenaikan beliau dari Yerusalem menuju tingkatan langit tertinggi untuk menerima perintah shalat.

Mi'raj Isra

Visualisasi simbolis dari perjalanan malam suci.

Pelajaran dari Kisah Bani Israil

Setelah membahas mukjizat agung tersebut, Surah Al-Isra beralih pada peringatan dan pengajaran bagi umat manusia, khususnya mengenai Bani Israil. Allah SWT mengingatkan bahwa setiap umat akan mendapatkan balasan setimpal atas perbuatan mereka. Ayat-ayat dalam surah ini secara gamblang menjelaskan bahwa kehancuran atau kemuliaan sebuah bangsa sangat bergantung pada ketaatan mereka terhadap ajaran Ilahi.

Allah menjelaskan dua kali kerusakan besar yang dilakukan oleh Bani Israil. Pertama, mereka menyebarkan permusuhan dan kezaliman di bumi setelah diberi peringatan keras. Kedua, mereka bersikap sombong dan mengingkari nikmat Allah. Peringatan keras ini tidak hanya ditujukan kepada komunitas Yahudi pada masa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi pelajaran universal bagi seluruh umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, yaitu melanggar batas (israf) dan berbuat kerusakan.

Prinsip Etika dan Akidah dalam Surah Al-Isra

Selain kisah historis, Surah Bani Israil kaya akan pilar-pilar etika dan hukum Islam yang fundamental. Ayat-ayat kunci dalam surah ini menegaskan larangan keras terhadap perbuatan keji seperti syirik, membunuh tanpa hak, berzina, dan memakan harta anak yatim secara tidak benar. Ayat ke-23 hingga ke-24 adalah inti dari adab berinteraksi sosial: berbuat baik kepada kedua orang tua, tidak membentak mereka, dan senantiasa merendahkan diri dalam kasih sayang.

Surah ini juga menekankan pentingnya menunaikan janji, berlaku adil dalam timbangan dan ukuran (sebuah isu ekonomi yang relevan bahkan hingga hari ini), serta pentingnya menjaga lisan dari kebohongan. Prinsip-prinsip ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang paripurna, mengatur hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (sesama manusia dan alam).

Lebih lanjut, Al-Isra mengingatkan manusia tentang keterbatasan ilmu mereka. Ketika kaum Quraisy Mekkah bertanya mengenai ruh, Allah menjawab bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas, dan hanya Allah SWT yang memiliki hak prerogatif atas perkara hakikat ruh. Ini mengajarkan kerendahan hati intelektual di hadapan kebesaran Pencipta.

Perintah Shalat dan Konsekuensi

Peristiwa Mi'raj yang menjadi pembuka surah ini berpuncak pada penetapan lima waktu shalat wajib lima waktu sehari semalam. Hal ini menegaskan posisi shalat sebagai tiang agama dan penghubung utama antara hamba dan Tuhannya. Surah ini menutup dengan perintah untuk senantiasa mengingat Allah, bersyukur, dan menjauhi perbuatan yang berlebihan.

Secara keseluruhan, Surah Bani Israil berfungsi sebagai pengingat tentang kemahakuasaan Allah yang ditunjukkan melalui mukjizat agung, peringatan tegas mengenai konsekuensi penyimpangan berdasarkan sejarah Bani Israil, serta panduan etika komprehensif yang harus dijunjung tinggi oleh setiap Muslim dalam menjalani kehidupan duniawi.

🏠 Homepage