Representasi skematis struktur daun akasia.
Pohon Akasia, yang termasuk dalam genus Acacia dan keluarga Fabaceae, adalah salah satu kelompok tanaman paling beragam di dunia. Tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis, pohon ini dikenal tidak hanya karena ketangguhannya menghadapi kondisi kering, tetapi juga karena keunikan struktur daunnya. Memahami daun pokok akasia adalah kunci untuk mengidentifikasi spesies serta menghargai adaptasi evolusionernya yang luar biasa.
Secara umum, daun akasia memiliki dua bentuk utama yang sangat kontras, terutama bergantung pada spesies dan tahapan pertumbuhannya. Pada anakan atau spesies tertentu yang lebih muda, daun yang muncul adalah daun majemuk sejati (bipinnate), yang sangat halus, berbulu, dan menyerupai pakis. Daun jenis ini terdiri dari tangkai utama (rachis) yang bercabang menjadi tangkai-tangkai sekunder (pinnae), yang kemudian dihiasi oleh banyak anak daun kecil (leaflets). Struktur ini memaksimalkan luas permukaan untuk fotosintesis sambil tetap memiliki kemampuan untuk mengurangi penguapan air dengan melipat diri saat panas ekstrem.
Namun, fitur yang paling membedakan genus Acacia—terutama spesies Australia (yang kini banyak diklasifikasikan ulang sebagai Vachellia atau Senegalia)—adalah modifikasi daun sejati menjadi struktur yang disebut **filod** (phyllode). Filod adalah tangkai daun (petiole) yang telah memipih, melebar, dan menjadi dominan dalam proses fotosintesis, sementara anak daun sejati gugur pada tahap awal pertumbuhan atau hanya tersisa sebagai duri kecil.
Pergantian dramatis dari daun majemuk yang halus ke filod yang tebal dan kaku ini merupakan respons adaptif yang brilian terhadap lingkungan yang keras. Filod memiliki kutikula yang lebih tebal, meminimalkan kehilangan air melalui transpirasi. Bentuknya yang seringkali lonjong atau seperti sabit membantu daun menyerap cahaya matahari secara efisien tanpa terlalu panas. Di daerah kering, seperti sabana dan semak belukar Australia, filod memungkinkan pohon akasia bertahan hidup di mana tanaman dengan daun lebar biasa akan cepat layu.
Selain peran vitalnya dalam produksi energi melalui fotosintesis, daun pokok akasia juga memainkan peran ekologis yang signifikan. Baik dalam bentuk daun majemuk maupun filod, daun ini merupakan sumber pakan penting bagi berbagai herbivora. Di Afrika, daun akasia adalah makanan utama bagi jerapah, karena tingginya, mereka dapat menjangkau dedaunan tanpa banyak persaingan dari mamalia darat lainnya. Sementara itu, daun yang mengandung tanin dan senyawa pelindung lainnya menjadi tantangan nutrisi yang harus diatasi oleh pemakan daun.
Secara historis, beberapa spesies akasia (seperti Acacia senegal) juga dihargai karena getahnya yang mengeras, dikenal sebagai gum arab. Getah ini secara biologis merupakan respons pertahanan pohon terhadap kerusakan pada kulit kayu atau tangkai daun, namun secara komersial sangat berharga. Meskipun getah berasal dari batang, keberadaan daun yang sehat dan metabolisme yang kuat sangat penting untuk mempertahankan produksi getah ini.
Variasi bentuk daun juga mencerminkan sebaran geografis Akasia. Spesies yang tumbuh di daerah yang lebih lembab atau memiliki iklim sedang cenderung mempertahankan struktur daun majemuk yang lebih 'tradisional' (misalnya, beberapa spesies di Asia Tenggara). Sementara itu, spesies dari Australia Barat yang sangat kering, seringkali menampilkan filod yang sangat keras dan berduri, menunjukkan spesialisasi ekstrem dalam konservasi air. Struktur daun ini bukan hanya masalah estetika, melainkan peta hidup adaptasi terhadap tantangan iklim.
Sebagai kesimpulan, daun pokok akasia adalah studi kasus yang luar biasa dalam biologi evolusioner. Dari struktur halus yang mengingatkan pada pakis hingga filod tebal yang keras, daun ini telah berevolusi untuk mengoptimalkan kelangsungan hidup dalam berbagai lingkungan yang menantang. Memperhatikan bentuk daun—apakah itu majemuk atau filod—adalah langkah pertama yang paling akurat untuk mengidentifikasi keajaiban pohon berduri yang tangguh ini.