Keluarnya sperma, atau ejakulasi, adalah proses fisiologis normal yang merupakan bagian penting dari fungsi reproduksi pria. Proses ini terjadi ketika cairan mani (semen), yang mengandung sperma, dikeluarkan dari penis. Memahami apa yang menyebabkan proses ini terjadi sangat penting, baik dari perspektif kesehatan seksual, kesuburan, maupun pemahaman dasar anatomi.
Ejakulasi adalah hasil dari serangkaian refleks kompleks yang melibatkan sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer. Proses ini umumnya terbagi menjadi dua fase utama: fase emisi dan fase ekspulsi.
Penyebab keluarnya sperma dapat dikategorikan berdasarkan pemicu fisik dan psikologis yang memicu refleks ejakulasi.
Ini adalah penyebab paling umum dan alami. Stimulasi fisik pada penis—baik melalui sentuhan langsung (masturbasi atau hubungan seksual) maupun rangsangan psikologis (fantasi seksual)—akan mengirimkan sinyal ke otak. Otak kemudian mengirimkan sinyal balik yang memicu respons refleks ejakulasi. Orgasme selalu mendahului ejakulasi, yaitu pelepasan ketegangan seksual yang diikuti oleh keluarnya cairan mani.
Dikenal juga sebagai nocturnal emission, keluarnya sperma terjadi saat pria tertidur. Ini adalah proses yang sepenuhnya otomatis dan merupakan cara tubuh melepaskan kelebihan sperma atau cairan reproduksi yang menumpuk. Ini sangat umum terjadi pada remaja laki-laki dan pria muda, meskipun bisa terjadi pada pria segala usia. Ini adalah fenomena normal dan bukan indikasi masalah kesehatan.
Walaupun jarang, ejakulasi dapat terjadi tanpa adanya stimulasi seksual eksternal yang jelas. Hal ini mungkin dipicu oleh tekanan pada area panggul atau stimulasi pada area sensitif lain, meskipun seringkali mekanismenya terkait erat dengan respons saraf yang telah dipicu sebelumnya.
Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, keluarnya sperma bisa dipicu oleh kondisi medis atau efek samping obat-obatan tertentu. Misalnya, beberapa obat yang memengaruhi sistem saraf atau obat-obatan yang digunakan untuk mengobati kondisi prostat terkadang dapat memengaruhi mekanisme ejakulasi. Jika ejakulasi terjadi secara tidak normal (terlalu sering, menyakitkan, atau tanpa stimulasi sama sekali), konsultasi medis sangat disarankan.
Frekuensi keluarnya sperma sangat bervariasi antar individu dan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk usia, tingkat libido (dorongan seksual), status hubungan, dan kondisi kesehatan umum.
Singkatnya, keluarnya sperma adalah respons fisiologis yang diatur oleh sistem saraf sebagai puncak dari respons seksual. Selama proses ini berjalan tanpa rasa sakit atau menyebabkan gangguan signifikan pada fungsi sehari-hari, hal itu dianggap sebagai bagian normal dari kesehatan reproduksi pria.