Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan akronim HAMKA, adalah salah satu tokoh intelektual Muslim terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Namanya identik dengan semangat pembaharuan Islam, keilmuan yang mendalam, dan peranannya yang sentral dalam diskursus kebangsaan. Perjalanan hidupnya mencerminkan dedikasi tanpa henti dalam mendidik umat dan membela martabat bangsa melalui pena dan mimbar.
Lahir di Maninjau, Sumatera Barat, latar belakang keluarga HAMKA sendiri sudah kental dengan nuansa keilmuan. Ayahnya, Syeikh Karim Amrullah, adalah seorang tokoh pembaharu yang berpengaruh di Minangkabau. Didikan awal yang ketat dan kaya akan literatur Islam klasik membentuk fondasi keilmuan HAMKA sejak usia dini. Meskipun sempat mengenyam pendidikan formal modern, HAMKA lebih banyak mengasah kemampuannya melalui otodidak dan berguru langsung kepada ulama-ulama terkemuka pada masanya.
Perjalanan hijrahnya, termasuk masa studi singkat di Timur Tengah dan pertemuannya dengan berbagai pemikiran Islam kontemporer, memperkaya perspektifnya. Ia tidak hanya terkurung dalam mazhab tertentu, namun mampu mengintegrasikan pemikiran tajdid (pembaharuan) dengan tradisi keilmuan yang mapan. Ini yang kemudian menjadi ciri khas dalam karya-karya besarnya.
Daya tarik utama Haji Abdul Malik Karim Amrullah bagi masyarakat luas terletak pada kemampuannya menulis. Ia adalah seorang pujangga ulung yang mampu menyajikan konsep-konsep Islam yang rumit menjadi bahasa yang mudah dicerna, puitis, dan menggetarkan jiwa. Karya-karyanya tidak hanya terbatas pada ranah teologi atau fiqh, tetapi meluas hingga sastra, sejarah, dan kritik sosial.
Di antara karya monumentalnya, buku "Ayahku: Riwayat Hidup dan Perjuangan Syeikh Dr. Abdul Karim Amrullah" menjadi penanda otobiografis yang penting, memberikan wawasan mendalam mengenai dinamika pergerakan Islam di Minangkabau. Namun, kitab tafsir Al-Qur'an karya beliau, Tafsir Al-Azhar, sering dianggap sebagai puncak pencapaian intelektualnya. Tafsir ini sangat istimewa karena disajikan dengan pendekatan yang kontekstual dan sangat memperhatikan kondisi sosial masyarakat Asia Tenggara. Dalam menafsirkan, HAMKA sering memasukkan pandangan filosofis dan relevansi zaman modern, menjadikannya berbeda dari tafsir tradisional lainnya.
Selain aktivitas tulis-menulis, Haji Abdul Malik Karim Amrullah adalah seorang orator ulung. Ceramahnya selalu dinanti, menarik ribuan pendengar dari berbagai kalangan, baik santri, intelektual, maupun masyarakat awam. Ia piawai dalam menyeimbangkan antara semangat puritanisme agama dan pragmatisme dalam menghadapi modernitas. Ia mengajak umat Islam untuk tidak takut pada ilmu pengetahuan Barat asalkan tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam.
Peranannya semakin terasa ketika ia terlibat aktif dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pemikiran-pemikirannya seringkali menjadi perekat moral dan spiritual bagi para pejuang. Meskipun ia pernah mengalami gejolak politik dan bahkan dipenjara di masa Orde Lama karena perbedaan pandangan ideologis, semangatnya untuk membimbing umat tidak pernah padam. Setelah melewati masa-masa sulit tersebut, ia kembali dihormati dan diangkat sebagai salah satu tokoh sentral keagamaan pada era selanjutnya.
Hingga kini, warisan pemikiran Haji Abdul Malik Karim Amrullah tetap relevan. Kontribusinya dalam bidang pendidikan Islam terpadu (menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum) menjadi cetak biru bagi banyak lembaga pendidikan Islam modern di Indonesia dan Malaysia. Ia mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang dinamis, yang harus terus diinterpretasikan ulang sesuai dengan tantangan zaman tanpa mengorbankan inti ajarannya.
HAMKA adalah simbol integritas intelektual: seorang ulama yang berani berdialog dengan zaman, seorang sastrawan yang menyebarkan kebenaran, dan seorang nasionalis yang mengedepankan persatuan bangsa di bawah naungan nilai-nilai Islam yang moderat dan mencerahkan. Profilnya menjadi pengingat bahwa Islam Indonesia kaya akan tradisi keilmuan yang otentik dan berkarakter.
Pengaruh Haji Abdul Malik Karim Amrullah terbentang luas, menjadikannya bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan mercusuar pemikiran Islam yang cahayanya masih terasa hingga kini, terutama dalam upaya umat Islam menghadapi tantangan globalisasi dengan tetap berpegang teguh pada akidah.
Penting untuk dicatat bahwa metode dakwah HAMKA selalu menekankan pentingnya pemahaman mendalam (fahm) al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar ritualitas permukaan. Ia kerap mengkritik praktik-praktik keagamaan yang dianggapnya sudah terdistorsi oleh takhayul atau budaya yang bertentangan dengan semangat ijtihad. Kritik ini disampaikan dengan bahasa yang santun namun tegas, mencerminkan kedewasaan intelektual seorang ulama besar. Pendekatan yang humanis ini membuatnya dicintai oleh berbagai lapisan masyarakat yang haus akan pencerahan spiritual yang membebaskan, bukan membelenggu.
Dalam konteks hubungan antaragama, HAMKA juga menunjukkan sikap terbuka. Ia percaya bahwa prinsip keadilan dan kemanusiaan yang diajarkan Islam harus menjadi landasan dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain. Meskipun ia sangat membela eksistensi Islam, pendekatannya selalu inklusif, mencari titik temu kemanusiaan universal. Inilah salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari kehidupan Haji Abdul Malik Karim Amrullah: bahwa kebesaran seorang intelektual diukur dari kedalaman ilmunya dan keluasan kasih sayangnya terhadap sesama manusia.