Aksara Jawa, yang dikenal sebagai Hanacaraka, merupakan salah satu warisan budaya tak ternilai dari Indonesia, khususnya dari tanah Jawa. Keindahan dan kekayaan filosofis yang terkandung di dalamnya menjadikan aksara ini lebih dari sekadar sistem penulisan. Di balik setiap guratan dan lekukannya, tersembunyi cerita, makna, dan bahkan panduan hidup. Hanacaraka tidak hanya terdiri dari deretan aksara dasar, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai macam tanda atau "pasangan" yang memungkinkan pengucapan dan penulisan kata dengan lebih kompleks dan akurat.
Nama "Hanacaraka" sendiri berasal dari empat aksara pertama dalam urutan tradisional aksara Jawa: Ha, Na, Ca, dan Ra. Deretan ini bukanlah urutan abjad semata, melainkan sebuah narasi singkat yang sarat makna: hana caraka data sawala, yang dapat diartikan sebagai "ada utusan, mereka berdua saling berselisih". Cerita ini sering kali dihubungkan dengan kisah dua utusan yang membawa berita penting namun kemudian terlibat dalam perselisihan.
Aksara dasar Hanacaraka berjumlah 20 buah. Masing-masing memiliki bunyi vokal inheren 'a', yang dapat diubah menjadi vokal lain (i, u, e, o) dengan menambahkan sandangan (tanda baca vokal) di atas, di bawah, atau di depan aksara. Contohnya, aksara 'ka' (k) jika diberi sandangan 'i' di atas menjadi 'ki', diberi sandangan 'u' di bawah menjadi 'ku', dan seterusnya.
Salah satu aspek paling menarik dan krusial dari aksara Jawa adalah keberadaan "pasangan" atau yang juga dikenal sebagai "sigegan". Pasangan ini adalah bentuk aksara yang lebih kecil, biasanya diletakkan di bawah aksara sebelumnya, yang berfungsi untuk menghilangkan bunyi vokal inheren 'a' dari aksara tersebut. Tanpa pasangan, setiap aksara akan selalu diikuti oleh bunyi 'a', yang tentu saja akan sangat membatasi kemampuan sistem penulisan.
Misalnya, jika kita ingin menulis kata "anak" dalam aksara Jawa, kita akan menggunakan aksara 'a', 'na', dan 'ka'. Namun, jika kita ingin menulis kata "angkasa", kita perlu menghilangkan bunyi vokal 'a' dari 'n' agar dapat diikuti oleh 'g'. Di sinilah pasangan berperan. Aksara 'n' akan diikuti oleh aksara 'g' yang ditulis dalam bentuk pasangan 'n'. Dengan demikian, gabungan 'n' (pasangan) + 'g' akan menghasilkan bunyi 'ng'. Contoh lain adalah penulisan kata "dhuk" yang membutuhkan aksara 'dha' diikuti oleh aksara 'ka' dalam bentuk pasangan 'ka' untuk menghilangkan vokal 'a' pada 'dha'.
Ada berbagai macam bentuk pasangan, tergantung pada aksara yang menjadi pasangannya. Bentuk pasangan biasanya lebih sederhana dan ringkas dibandingkan bentuk aksara dasarnya. Penggunaan pasangan yang tepat sangat penting untuk memastikan bahwa kata yang ditulis memiliki bunyi dan makna yang benar. Kesalahan dalam penggunaan pasangan dapat mengubah arti sebuah kata secara drastis.
Selain pasangan, aksara Jawa juga memiliki sistem sandangan vokal dan konsonan. Sandangan vokal (seperti suku untuk 'u', taling untuk 'e'/'é'/'ê', pepet untuk 'e', taling tarung untuk 'o') digunakan untuk mengubah bunyi vokal inheren 'a'. Sementara itu, sandangan konsonan (seperti cecak untuk 'ng', layar untuk 'r', wignyan untuk 'h') ditambahkan untuk menghasilkan bunyi konsonan tertentu atau sebagai penanda akhir suku kata.
Sistem penulisan Hanacaraka juga dilengkapi dengan aksara angka. Angka-angka Jawa memiliki bentuk yang unik dan khas, berbeda dengan angka Arab yang kita gunakan sehari-hari. Penggunaan angka Jawa ini sering ditemukan dalam penulisan naskah kuno, prasasti, atau karya seni yang bernuansa tradisional.
Lebih dari sekadar alat komunikasi, Hanacaraka juga kaya akan nilai filosofis. Rangkaian aksara dan pasangan yang kompleks mengajarkan tentang keteraturan, kesabaran, dan ketelitian. Setiap aksara, setiap sandangan, dan setiap pasangan memiliki tempat dan fungsinya masing-masing, sebagaimana setiap aspek kehidupan memiliki perannya sendiri.
Kisah di balik Hanacaraka yang berarti "ada utusan, mereka berdua saling berselisih" dapat dimaknai sebagai pengingat tentang pentingnya komunikasi yang baik, menghindari konflik yang tidak perlu, dan pentingnya peran utusan dalam menyampaikan pesan dengan akurat. Fleksibilitas aksara Jawa dalam membentuk kata-kata baru melalui pasangan dan sandangan juga mencerminkan kemampuan adaptasi dan evolusi dalam bahasa itu sendiri.
Di era digital ini, kelestarian aksara Jawa menjadi sebuah tantangan tersendiri. Namun, dengan semakin banyaknya sumber daya digital, kursus online, dan inisiatif dari berbagai pihak, mempelajari dan menggunakan Hanacaraka menjadi semakin terjangkau. Mengenal dan memahami Hanacaraka beserta pasangannya bukan hanya tentang mempelajari sejarah, tetapi juga tentang menjaga akar budaya, menghargai kearifan lokal, dan merawat keindahan seni tulis nenek moyang.
Aksara Jawa adalah cerminan identitas bangsa, sebuah warisan yang patut dibanggakan dan terus dihidupkan. Memahami Hanacaraka dan pasangannya adalah langkah awal untuk membuka pintu menuju kekayaan literatur, seni, dan filosofi Jawa yang mendalam.