HIV AIDS Menurut WHO: Memahami Infeksi dan Pencegahan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memainkan peran sentral dalam mendefinisikan, memantau, dan mengarahkan respons global terhadap HIV dan AIDS. Pemahaman yang akurat mengenai apa itu HIV dan bagaimana ia berkembang menjadi AIDS, berdasarkan panduan WHO, sangat penting untuk upaya pencegahan dan pengobatan yang efektif di seluruh dunia.

Apa Itu HIV dan AIDS Berdasarkan Definisi WHO?

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel T CD4, yang membantu sistem imun melawan infeksi. Jika tidak diobati, HIV dapat menghancurkan sel CD4 hingga tingkat yang sangat rendah, membuat tubuh rentan terhadap infeksi oportunistik dan kanker tertentu. Kondisi stadium akhir dari infeksi HIV ini disebut AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).

Menurut WHO, AIDS didefinisikan sebagai sindrom yang ditandai oleh adanya satu atau lebih infeksi oportunistik berat atau keganasan tertentu yang muncul pada seseorang yang telah terinfeksi HIV. Diagnosis AIDS juga dapat didasarkan pada hitungan sel CD4 yang sangat rendah (di bawah 200 sel per milimeter kubik darah), meskipun kriteria klinis tetap menjadi bagian penting dari diagnosis di banyak pengaturan sumber daya terbatas.

T-Sel HIV Sistem Imun Lemah AIDS

Ilustrasi di atas menunjukkan tahapan sederhana bagaimana HIV menginfeksi sel imun, yang menjadi dasar mengapa WHO menekankan pengobatan dini.

Transmisi dan Pencegahan Menurut WHO

WHO menggarisbawahi bahwa HIV tidak ditularkan melalui sentuhan biasa, gigitan nyamuk, atau berbagi peralatan makan. Penularan hanya terjadi melalui pertukaran cairan tubuh tertentu dari orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) ke orang yang tidak terinfeksi, yaitu:

Strategi Pencegahan Utama WHO

Upaya pencegahan global didasarkan pada pendekatan "Triple Check" yang mencakup:

  1. Pencegahan Primer: Mendorong perilaku aman, seperti penggunaan kondom yang konsisten dan benar, serta promosi program suntik yang aman.
  2. Pencegahan Sekunder (PEP & PrEP):
    • PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis): Penggunaan obat antiretroviral oleh orang yang HIV-negatif namun berisiko tinggi tertular.
    • PEP (Post-Exposure Prophylaxis): Pengobatan darurat yang dimulai sesegera mungkin setelah potensi paparan HIV.
  3. Pencegahan Transmisi Vertikal (PMTCT): Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, yang sangat efektif jika ibu hamil menjalani terapi antiretroviral.

Pengobatan: Kunci Menuju Hidup Sehat dengan HIV

Salah satu kemajuan terbesar dalam penanganan HIV/AIDS adalah ketersediaan Terapi Antiretroviral (ARV). WHO merekomendasikan agar semua orang yang didiagnosis positif HIV harus segera memulai pengobatan ARV, tanpa memandang stadium penyakit atau jumlah sel CD4 mereka.

Pengobatan ARV bekerja dengan menghambat replikasi virus dalam tubuh. Tujuannya adalah mencapai Undetectable = Untransmittable (U=U). Ini berarti jika seseorang yang hidup dengan HIV secara konsisten mengonsumsi obatnya sehingga viral load (jumlah virus dalam darah) turun ke tingkat yang tidak terdeteksi oleh tes standar, mereka tidak dapat menularkan HIV secara seksual kepada pasangannya.

Mengapa Deteksi Dini Penting?

Deteksi dini memungkinkan individu untuk segera memulai ARV. Memulai terapi lebih awal tidak hanya menjaga kesehatan individu dengan mencegah kerusakan sistem imun, tetapi juga merupakan alat pencegahan yang kuat karena menurunkan risiko penularan ke orang lain.

WHO terus mendorong negara-negara untuk meningkatkan akses terhadap tes HIV, layanan pengobatan, dan layanan dukungan komprehensif. Meskipun HIV belum dapat disembuhkan, dengan pengobatan yang tepat, ODHIV dapat memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan populasi umum, hidup sehat, dan mencegah perkembangan penyakit menjadi AIDS.

Keseluruhan filosofi WHO adalah mengakhiri epidemi AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun-tahun mendatang melalui komitmen pada pengujian, pengobatan, pencegahan, dan penghapusan stigma serta diskriminasi yang sering menghambat upaya penanggulangan.

🏠 Homepage