HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4 atau sel T helper. Jika tidak diobati, infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), yaitu stadium akhir di mana sistem imun sudah sangat lemah dan rentan terhadap infeksi oportunistik serta kanker tertentu. Memahami hiv aids penyebab penularannya adalah langkah krusial dalam upaya pencegahan.
Penyebab mendasar infeksi HIV adalah masuknya virus ini ke dalam aliran darah seseorang. HIV tidak menyebar melalui udara, sentuhan biasa, gigitan nyamuk, atau berbagi makanan dan minuman. Penularan hanya terjadi ketika cairan tubuh tertentu yang mengandung virus dalam jumlah yang cukup berpindah dari orang yang terinfeksi ke orang yang belum terinfeksi.
Cairan tubuh yang membawa risiko penularan meliputi:
Identifikasi jalur penularan membantu masyarakat memahami risiko nyata dan menghindari mitos yang salah. Berikut adalah tiga jalur utama penularan HIV/AIDS:
Ini adalah jalur penularan HIV yang paling umum secara global. Penularan terjadi ketika terjadi kontak antara cairan seksual (sperma, cairan pra-ejakulasi, atau cairan vagina) dari orang yang terinfeksi ke lapisan mukosa (seperti di dalam anus, vagina, atau mulut) pasangan seksualnya. Risiko meningkat jika terdapat luka atau lecet pada area genital atau jika melakukan hubungan seksual anal tanpa kondom, karena lapisan rektal lebih tipis dan mudah terluka.
Penularan melalui darah sangat mungkin terjadi melalui penggunaan jarum suntik, alat suntik, atau alat penusuk lain yang terkontaminasi darah yang membawa virus. Praktik ini sering terjadi pada pengguna narkotika suntik (penasun). Selain itu, transfusi darah yang terkontaminasi juga merupakan risiko historis, meskipun saat ini risiko ini sangat kecil di negara dengan sistem skrining darah yang ketat.
Seorang ibu yang hidup dengan HIV dapat menularkan virus kepada anaknya melalui tiga cara:
Namun, dengan adanya program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PMTCT), risiko penularan ini dapat dikurangi hingga kurang dari 1% jika ibu hamil menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara teratur.
Meskipun virus berada dalam cairan tubuh, tidak setiap paparan akan menghasilkan infeksi. Beberapa kondisi dapat meningkatkan kerentanan dan risiko penularan:
Penting untuk ditekankan bahwa HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda. Begitu seseorang terdiagnosis HIV, kunci untuk mencegah berkembangnya kondisi menjadi AIDS adalah pengobatan yang konsisten. Pengobatan Antiretroviral (ARV) efektif menekan replikasi virus sehingga jumlah virus dalam darah menjadi sangat rendah, bahkan tidak terdeteksi (Undetectable = Untransmittable, atau U=U). Jika viral load tidak terdeteksi, risiko penularan seksual hampir nol, dan orang tersebut dapat hidup sehat dengan harapan hidup yang hampir sama dengan orang tanpa HIV, sehingga mencegah timbulnya AIDS.