Isra Mi'raj adalah salah satu peristiwa paling monumental dan ajaib dalam sejarah Islam. Peristiwa ini merupakan perjalanan luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Isra adalah perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sementara Mi'raj adalah kenaikan Nabi SAW dari Masjidil Aqsa menuju langit ketujuh dan Sidratul Muntaha.
Peristiwa penting ini seluruhnya terjadi dalam konteks budaya dan bahasa Arab. Nama-nama lokasi suci dan deskripsi perjalanan itu sendiri tersemat kuat dalam terminologi Arab. Memahami istilah-istilah kunci dalam bahasa aslinya memberikan kedalaman spiritual tersendiri.
Kata "Al-Isra" (الإسراء) secara harfiah berarti perjalanan malam hari. Dalam konteks ini, merujuk pada perjalanan Nabi dari Ka'bah (Mekkah) ke Baitul Maqdis (Al-Quds/Yerusalem). Kata dasarnya adalah *S-R-Y* (سرى) yang berarti berjalan di malam hari.
Ayat Al-Qur'an yang paling fundamental mengenai Isra terdapat dalam Surah Al-Isra ayat pertama:
(Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa).
Sementara itu, "Al-Mi'raj" (المعراج) berasal dari kata kerja *A-R-J* (عرج) yang berarti naik atau menaiki tangga. Mi'raj adalah perjalanan vertikal Nabi ke atas, melalui lapisan-lapisan langit. Ini adalah momen spiritual tertinggi di mana Nabi bertemu dengan para nabi sebelumnya dan menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT.
Isra Mi'raj bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi merupakan validasi kenabian dan penguatan spiritual bagi Nabi Muhammad SAW di tengah masa-masa sulit dakwah di Mekkah. Perjalanan ini menegaskan posisi Nabi di hadapan Allah SWT.
Dalam Mi'raj, Nabi Muhammad SAW melewati tingkatan-tingkatan surga dan bertemu dengan para Rasul agung lainnya seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa, masing-masing di tingkatan langit yang berbeda. Pertemuan ini menegaskan kesinambungan risalah kenabian.
Di tingkat tertinggi, Nabi mencapai Sidratul Muntaha (سدرة المنتهى), yaitu pohon bidara agung yang menjadi batas akhir bagi makhluk. Di tempat ini, wahyu tentang kewajiban shalat lima waktu diturunkan. Shalat adalah pilar utama Islam, dan penerimaannya di tempat yang begitu suci menunjukkan betapa pentingnya ibadah tersebut bagi umat Islam di seluruh penjuru waktu dan tempat.
Peristiwa ini juga memberikan perspektif kosmik kepada umat Islam. Sebelum Isra Mi'raj, kebanyakan mukjizat terbatas pada wilayah geografis tertentu. Namun, perjalanan ini menunjukkan kekuasaan Allah yang melampaui ruang dan waktu, membuktikan bahwa Islam adalah agama universal yang melingkupi seluruh alam semesta, yang diisyaratkan melalui istilah-istilah Arab yang mulia tersebut. Kisah ini senantiasa menjadi pengingat akan keagungan Sang Pencipta dan keistimewaan Nabi penutup.